29
Oct
09

art is an escape

I’m so pissed off, so I started to pick up my guitar, threw some notes, played with it, and I felt a lot better.

During the course of my life, i’ve dealt with so many shit, these and those. But strangely though, I always managed to find my perfect escape: art. I remember when i was at junior high, I had some problem adapting at life at boarding school, so I began to draw a lot and learn how to play guitar.

Up to this day, I still find the beauty of creating something is the best way to deal with daily problem of being pushed from every direction. Thank you art for being such a great therapy for me.

28
Oct
09

My top 20 tracks from the last 3 months

So basically these are the tunes that accompanied me after exhausting those office hours. 3 months are relevant enough, therefore I guess I still love listening to any of these songs these days. This data is as testified by last.fm :D

1. 3 Inches of Blood – Battles and Brotherhood
2. Steve Aoki – Shake And Pop (Feat. Kid Sister, With Green Velvet)
3. 3 Inches of Blood – Call of the Hammer
4. Job for a Cowboy – Regurgitated Disinformation
5. The Black Dahlia Murder – Christ Deformed
6. Yelle – Je Veux Te Voir
7. Coheed and Cambria – Welcome Home
8. The Black Dahlia Murder – I Will Return
9. 3 Inches of Blood – Rock In Hell
10. The Black Dahlia Murder – Death Panorama
11. Yelle – Amour Du Sol
12. The Black Dahlia Murder – Throne Of Lunacy
13. The Black Dahlia Murder – Eyes Of Thousand
14. 3 Inches of Blood – Silent Killer
15. Mr. Oizo – Minuteman’s Pulse
16. Job for a Cowboy – March To Global Enslavement
17. Himsa – Summon In Thunder
18. Yelle – Mal Poli
19. Killswitch Engage – Holy Diver (Dio Cover)
20. Brand New – Good to Know That If I Ever Need Attention All I Have to Do Is Die

Dominated by The Black Dahlia Murder, 3 Inches of Blood, and Yelle, hahaha… Hmm…i should make a mixtape :)

23
Oct
09

Lite: An Interactive Art Installation by Adityo Pratomo

So finally, after all the hassle, limited time, and any kind of obstacles, I’ve managed to finished my interactive art work and exhibited it in an exhibition named Resonance. Resonance itself is a exhibition that exhibited interactive art and video art, and this is part of Helarfest 2009. Totally, there are 11 works that displayed in the exhibition. You can read more about Resonance and also Helarfest 2009 in general, by clicking here .

Lite in action

Lite in action

So, now let me introduce you to my work, I name it “Lite”. In a brief, in this work, I create an environment for a generative audiovisual art to grow. Here, light is the main character. Light is used as an argument for the algorithm that will generate some form of audiovisual. Basically, by moving a light source in front of the computer, people can generate music and visualization.

Technically speaking, in this work I use Processing and Pure Data. Processing is used to track light source movement in front of the camera. The output of this, is the coordinate of the light source, in x and y coordinate. The value of x and y, is then used as an argument in Pure Data to generate frequency in a simple synthesizer/16 step sequencer. In Pure Data, there will be 3 synthesizers that I made, one FM and one AM are used as a lead part while one simple Sine oscillator is heavily low passed and used as a low

frequency part of the sequence. How 2 values (x and y) are used as an input to the 32 frequency of the synthesizers are purely algorithm. I used simple math between these x and y to make them generate specific frequencies that relies on their respective value. So, different light source position will generate different part from the Pure Data. Processing and Pure Data are connected through OSC protocol. The Processing code is based on a Brightness Tracking Code from the Processing Example, while the Pure Data sequencer is based on a lesson in Pure Data Floss Manual.

Personally speaking, this is quite an achievement for me. I’ve managed to finish my

second interactive art work (albeit a simple one) and this is my first ever exhibited work. Spiritually, I also think that finishing an artwork is a step ahead of finding myself as a complete human. Having said this, now I’m ready to create another installation. So, if anyone out there seek for collaborator, I’m more than ready to contribute.

This work will be exhibited until 30 October 2009 at CCF, Jalan Purnawarman 32, Bandung. So, if you happened to be in Bandung, then make sure you visit this marvelous exhibition.

13
Oct
09

How To Install Processing on Ubuntu

Now this one is more straightforward than Pd-extended. Just some easy steps. I perform this last night on My Ubuntu 8.04 Hardy Heron on a 64-bit platform.

1. Download the .tgz Processing for Linux file that available at processing.org/download
2. Download and install the Java Runtime for Ubuntu that can be searched using Synaptic. I use Java Runtime Environment 6.
3. Download and install libstdc++6 also using Synaptic. I’ve read here that using libstdc++5 is also possible.
4. Extract the Processing.tgz.
5. Run the file “Processing”.

That’s it. 5 easy steps. Apparently the Processing official site told that Ubuntu 8.04 64-bit and the 7.10 is the testing platforms on their lab. So I believe this steps would also applicable in 7.10. I’m not sure can this also be done in other versions of Ubuntu. But, you can try it.

As usual, pls comment if you find something’s wrong here.

Cheers

12
Oct
09

Installing Pure Data Extended on 64-bit Ubuntu

Okay, it’s 11 PM right now, i should get some sleep. But, before I go to sleep, here’s some step for you who want to install Pure Data extended or Pd-extended, to abbreviate, on a 64-bit Ubuntu (I use Hardy Heron, so I don’t know if other version would work). There’s no Pd-extended installer for 64-bit system in Pd official site, but believe me, this way would work. Just done it myself :)
Continue reading ‘Installing Pure Data Extended on 64-bit Ubuntu’

12
Oct
09

Emergency! Darurat!

Beberapa waktu yang lalu saya diajak teman untuk pameran di nusubstance 209, sebuah pameran yang menampilkan instalasi dan karya-karya seni multimedia interaktif. Nampak menarik, karena saya punya sesuatu untuk dipamerkan.

Namun, ketika saya tanya kapan tanggalnya, teman saya dengan enteng menjawab, 19 Oktober, yang sama dengan minggu depan! Hahaha… Padahal hingga tadi malam, alat buatan saya ini juga belum juga jadi.

Oke, jadi hingga at least tanggal 18, saya punya list yang harus saya kerjakan:

1. Membersihkan Ubuntu 8.04 saya, jadi bisa dipakai sistem dasar yang hanya untuk menjalankan karya saya
2. Menginstal Processing dan Pure Data extended
3. Menjalankan program yang sudah saya buat di keduanya
4. Memastikan keduanya bisa berkomunikasi via OSC
5. Menginstal webcam yang bisa berjalan di atas Processing
6. Membuat instalasi fisik

Fiuh… 6 langkah yang pastinya tidak sebentar. Okey then, mulai malam ini harus bergerak. Jadi kalau dalam beberapa waktu saya tidak aktif di dunia maya, mohon maaf ya :)

Doakan saya sukses, dan saya akan segera mengabari, sebenarnya apa sih yang saya bikin :)

Cheers

08
Oct
09

Review Film Singkat: The Ugly Truth (2009)

Tumben-tumbenan nih saya nonton romantic comedy. Biasanya saya alergi banget nonton film genre ini. Selain karena plot yang standar, beberapa pakem-pakem romantic comedy menurut saya sangat basi dan membuat alur film menjadi mudah ditebak. Tapi, kalau boleh jujur, The Ugly Truth adalah film yang tunggu sejak saya melihat trailernya. Magnet dari Katherine Heigl dan Gerard Butler cukup untuk menarik saya ke bioskop. Sejak melihat Katherine Heigl di film Knocked Up, saya sudah tertarik untuk mengikuti kiprahnya di dunia Hollywood. Sementara itu, Gerard Butler adalah salah satu aktor yang menurut saya cukup punya attitude unik. Jadi ketika keduanya bermain di satu film, saya merasa akan ada chemistry di antara keduanya. Belum lagi premis bahwa film ini membeberkan semua yang ada di pikiran laki-laki. “Oke, saya terpukau, saya akan menunggu film ini”, begitu yang ada di pikiran saya sebelum film ini dirilis.

Kenyataannya, begitu film ini dimulai hingga sampai 2/3 film, saya dibuat terhibur. Banyak sekali adegan-adegan kocak ditampilkan. Sangat mengocok perut. Sedikit lelucon jorok membuat film ini nampak memang ditujukan untuk merangkul segmen penonton pria dewasa. Belum lagi ketika tokoh yang diperankan Gerard Butler memberitahukan sebenarnya apa sih yang ada di pikiran cowo. Yes, you got me there. You are 100% right. I’m impressed.

Sayangnya, memasuki akhir-akhir film, nampak cerita mulai kendor. Beberapa klise-klise a la romantic comedy mulai dikeluarkan. Sayang sekali. Endingnya sangat tidak klimaks, jalan ke ending itu pun dibuat kurang seru, karena sangat mengikuti “aturan baku romantic comedy”. Pun ketika sutradara nampak ingin memutar balikkan posisi Gerard – Katherine. Gerard yang tadinya diposisikan sebagai si pria berkuasa, dibuat tunduk dan mengakui the ugly truth itu sendiri. Sayang sekali, proses pemutar balikan itu menurut saya berlangsung terlalu cepat, dan sejujurnya saya sedikit kurang tersentuh. Sayang sekali, padahal sebenarnya pemutarbalikkan ini bisa menghasilkan efek yang lebih dahsyat andai endingnya tidak sedemikian standar.

But anyway, menurut saya ini adalah film yang cukup menghibur. Untuk para pria, film ini layak sekali ditonton dengan pacar kalau Anda malu untuk mengungkapkan ke pacar apa sih yang sebenarnya ada di otak anda.

saya beri nilai 6/10.

05
Oct
09

5 hal yang belum sempat saya lakukan selama jadi mahasiswa ITB

Wah tak terasa sudah nyari setahun saya diwisuda dari ITB tercinta. Sudah ini itu saya lakukan selama jadi mahasiswa, tapi ternyata masih ada beberapa hal yang tertinggal. Untuk merayakan itu, saya mendaftar 5 hal yang belum sempat saya lakukan selama jadi mahasiswa ITB. Tentu saja nggak cuma 5 ini saja, tapi ya ini 5 hal yang pertama terlintas di kepala saya kalau ditanya “belum ngapain aja selama di ITB?” So, ini dia hasil mengenang masa lalu :)

1. Jalan-jalan ke kebon binatang Tamansari

Sebegitu deketnya kebon binatang ama kampus, tinggal gelinding doang, tapi saya belum pernah menyambangi tuh tempat. Entah kenapa, kayanya lupa, biarpun pernah diniatin, haha…

2. Jadi pengawas ujian

Nah kalau yang ini selalu karena enggak tahu jadwal pendaftaran jadi pengawas. Kalau buat ngawas ujian TPB (mahasiswa tingkat 1) sih emang nggak bisa, karena harus jadi asisten lab dasar dulu. Sampai sekarang saya nggak tahu apa rasanya ya jadi pengawas ujian. Tapi pastinya sih lebih serius daripada jadi asisten lab yang bisa “cengos” :P Padahal saya sudah menyiapkan sejuta aksi buat dilakuin kalao mergokin anak yang ketauan nyontek. Sayang rencana tinggal rencana.

3. Minjem buku di perpustakaan

Gimana mau minjem buku kalau ke perpustakaan aja nggak pernah, haha… Sekalinya ke perpustakaan cuma buat ngurus kartu bebas pinjam sebagai syarat buat daftar ulang semester baru. Sekalinya saya sering mendatangi perpustakaan itu pas semester 7 buat nyari bahan Tugas Akhir. Tapi ya itu juga akhirnya tidur, ya uda deh… :P

4. Nginep di lab pas jaman Tugas Akhir

Kalau yang ini karena saya butuh tempat yang luas dan ketenangan dalam mengerjakan tugas akhir. Bukan apa-apa, emang TA-nya kaya gitu, butuh tempat luas buat diujicobakan. Jadinya ya udah , kebetulan di rumah ada space yang pas, ngerjain TA-nya di rumah terus deh

5. IP 4 di satu semester

Hahaha…kalau soal ini, teman-teman ITB angkatan 2004 pasti ingat kalau pas masuk, rektor kita waktu itu, Pak Kusmayanto Kadiman, pernah bilang parameter keberhasilan mahasiswa itu ada3:  lulus tepat waktu, IP 4 dan gaul. Sayang, dari itu semua, kayanya yang paling jauh dari genggaman saya ya IP 4 itu. Boror-boro IP 4, buat dapet IP di atas 3 aja baru semester 6 ke atas, hahaha… Dasar pemalas :p

Ya itu dia daftarnya. Bagaimana dengan rekan-rekan? Ada yang punya top5 yang lain? hihi…

04
Oct
09

Review Nokia E75

Wah sudah genap seminggu nih Nokia E75 saya kantongi. Handphone yang saya dapatkan setelah uang bonus turun usai lebaran kemarin, hihi… Kesan saya selama ini, handphone ini benar-benar powerful. Mulai dari fisik (ukuran moderat, dan beratnya yang mantap) hingga ke stabilitas handphone ini (sejauh ini handphone belum ngehang, dan kondisi batere juga awet hingga 2 hari lebih).

Handphone yang masuk ke kategori smartphone untuk bisnis ini cukup unik. Bentuk awalnya seperti handphone biasa dengan tombol seperti biasa pula. Namun bodynya bisa digeser, untuk mengeluarkan keyboard QWERTY dan seketika berkat sensor accelerometer di dalamnya, layar pun ikut berubah ke tampilan horizontal. Tampilannya pun jadi mengingatkan ke era communicator. Konon, handphone ini adalah pelanjut keberhasilan communicator tersebut.

E75 dengan keyboard QWERTY-nya

E75 dengan keyboard QWERTY-nya

Tapi fungsi sebenarnya yang diutamakan dari handpone ini adalah email. Kalau menurut iklan, handphone ini bisa PUSH dan PULL email dari berbagai account dan settingnya pun sangat mudah. Kenyataannya memang demikian. Begitu saya mendapat handphone ini, hal pertama yang saya lakukan adalah menambahkan account Yahoo! Mail dan Gmail saya. Keduanya berhasil, tanpa kesuliatn. Cukup dengan memasukkan username dan password, kedua account ini berhasil ditambahkan. Dan ini saya lakukan dalam perjalanan dari toko handphone ke foodcourt. Hingga hari ini pun, fungsi ini berjalan dengan baik. Semua email yang masuk ke kedua account saya ini terus dikirimkan ke handphone. Impresif!

E75 dalam mode telepon biasa

E75 dalam mode telepon biasa

PUSH dan PULL email ini menggunakan layanan Nokia khusus, dan biayanya ditagihkan ke penggunaan pulsa GPRS, seperti ketika kita berinternet biasa. Oleh karena itu, dalam rangka penghematan, saya melakukan kustomisasi, seperti hanya mendownload email header, isinya baru ditampilkan kalau saya merasa itu perlu. Selain itu, saya juga mendaftarkan diri saya di paket promosi internet provider saya. Kebetulan saya menggunakan XL. Ada harga promosi yang cukup menggiurkan. Sehingga saya tidak perlu merogoh kocek dalam untuk menikmati layanan email handphone ini.

Fungsi lainnya yang berhubungan dengan internet seperti web browsing dan mendownload juga dapat berjalan dengan baik. Ada web browser bawaan, namun saya kurang suka dengan cara kerjanya, hingga akhirnya saya pun mendownload Opera Mini 4.2. Software ini bisa berjalan baik.

Namun masalah saya temui untuk software messaging. Di handphone saya yang lama, eBuddy dan Nimbuzz bisa berjalan lancar tanpa masalah. Namun di sini keduanya tidak berfungsi. Nimbuzz tidak bisa masuk ke layar login. eBuddy bisa login namun hanya menampilkan 8 teman. Solusi lain yang saya coba adalah dengan menggunakan Nokia Messaging yang bisa didapatkan di website Nokia Lab. Dengan software ini ternyata semua teman saya bisa ditampilkan. Namun ternyata pesan yang saya kirimkan tidak sampai. Sementara untuk masalah ini saya belum punya solusi, ada yang bisa memberikan solusi?

Untuk komunikasi lain, seperti SMS dan menelpon juga tidak ada masalah. Untuk SMS, keyboard QWERTY yang ada di handphone ini juga sangat membantu. Cukup mudah digunakan, meskipun jarak antar tombol cukup kecil dan batas antar tombol cukup sulit dirasakan. Tapi dengan sedikit adaptasi, ternyata bisa juga. Justru SMS dengan tombol biasa, yang agak sulit. Karena perbedaan antar tombol lebih sulit lagi dirasakan. Jadi sebisa mungkin saya menggunaka QWERTY atas nama kemudahan, kecuali ketika saya berdiri di busway, hehe…

Fungsi hiburan saya belum banyak menggunakan. Tapi yang jelas, handphone ini bisa untuk memotret dengan kualitas gambar yang cukup baik. Saya tidak terlalu banyak memotret, jadi saya tidak akan komplain untuk urusan ini. Begitu juga dengan urusan memainkan file audio yang bahkan hingga saat ini saya belum mencoba, haha… Yang cukup unik adalah urusan bermain game. Karena secara built ini, handphone ini tidak menyediakan game. Yang tersedia adalah akses ke jaringan Nokia n-gage, di mana pengguna bisa mendownload game yang dikehendaki. Dari sini bisa dilihat bahwa Nokia memang serius membungkus handphone ini sebagai perangkat komunikasi bisnis.

Keseluruhan saya cukup terkesan dengan hanpdhone ini. Fungsi utamanya yang berjalan dengan baik membuat saya selalu terhubung dengan dunia maya. Komunikasi via email baik yang urusannya pribadi maupun kantor pun tidak terlewat meskipun saya sedang di busway atau sedang pacaran :) . Bentuknya yang elegan dan canggih pun menjadi nilai tambah yang lain. Ditambah dengan stabilitas yang baik, handphone ini menjadi sebuah handphone serius bagi pebisnis mobile.

02
Oct
09

saat seniman juga coding: pendekatan lain dalam penciptaan audiovisual interaktif

Media digital belakangan ini menjadi salah satu media yang banyak digunakan seniman untuk berekspresi. Media ini menawarkan berbagai kemudahan bagi penggunanya. Selain lebih awet, format digital juga mudah untuk direkayasa dan digabungkan dengan bentuk digital lainnya. Contohnya, video klip yang menggabungkan video dengan audio, atau game yang menggabungkan animasi, audio, algoritma, dan interaktivitas. Interaktivitas ini juga dikembangkan lebih lanjut dengan menggabungkan komputer dengan sensor-sensor tertentu untuk menghasilkan sebuah bentuk baru komunikasi antara manusia dengan komputer. Maka tak heran bila media digital menjadi media baru yang banyak digunakan untuk membuat karya audiovisual interaktif.

Namun, untuk membuat sebuah karya yang sah nilai komersilnya, perlu diperhatikan aspek legalitas dari proses pembuatan karya tersebut, seperti legalitas tool yang digunakan, baik itu hardware maupun software, dan juga ada tidaknya unsur dari karya orang lain. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memberikan contoh pendekatan lain dalam membuat sebuah karya kreatif di bidang audiovisual interaktif.

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membaca buku yang membahas secara mendalam tentang VJ (Visual Jockey) sebagai sebuah kultur audiovisual. Buku ini berisi wawancara dengan beberapa VJ terkemuka di seluruh dunia dan juga tinjauan historis dan teknikal mengenai profesi VJ itu sendiri. VJ di sini bukanlah VJ yang menjadi pembawa acara musik di TV, melainkan seorang yang menampilkan visualisasi sebagai pengiring musik, baik yang diputar di klub maupun yang dimainkan langsung dalam format band.

Dalam bagian wawancara, ada sebuah pertanyaan yang selalu ditanyakan berulang kali kepada hampir semua VJ, yakni bagaimana mereka berurusan dengan copyright, atau hak cipta dalam setiap visualisasi yang mereka tampilkan, baik itu gambar maupun potongan film. Jawaban mereka berbeda-beda, namun beberapa memberikan jawaban yang cukup unik: mereka tidak peduli karena mereka justru yakin bahwa yang mereka tampilkan adalah murni karya mereka sendiri, murni sesuatu yang mereka program sendiri.

Para VJ yang melakukan programming sendiri ini, bahkan lebih lanjut menunjukkan bahwa dengan metode ini, mereka bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka, yakni sebuah karya yang menunujukkan interaktivitas antara audio dan visual. Membuat visual yang berinteraksi dengan frekuensi-frekuensi tertentu dari musik yang dimainkan DJ, atau bahkan sesuatu yang bisa bereaksi terhadap perilaku penonton dan membuat pertunjukan musik semakin semarak. Dari sini nampak bahwa dengan melakukan programming, para VJ ini bisa mewujudkan khayalan mereka tentang bentuk interaksi manusia dengan media komputer.

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

Saat menghubungkan antara penciptaan dengan software melalui media komputer, aspek legalitas software yang digunakan, akan menjadi sesuatu yang vital. Tentunya akan nampak konyol saat menciptakan sesuatu yang murni buatan diri sendiri namun pembuatannya menggunakan software bajakan. Ada pelanggaran hak cipta juga di situ. Dengan melakukan programming sendiri, baik dengan menggunakan bahasa high level seperti C++, Java, atau Visual Basic, ataupun dengan programming environment open source yang sengaja dibuat untuk karya seni semacam Processing, Pure Data, Design By Numbers, dan Gridflow, tentu saja aspek penggunaan software bajakan sebagai tool kreatif juga bisa dihindari.

Secara filosofis anggaplah bahasa pemrograman ini sebagai kuas dan cat, dan kanvasnya adalah komputer. Komputer ini akan diberikan kode-kode untuk membuatnya bekerja menuruti imajinasi si seniman. Hasilnya sebuah karya seni di ranah digital yang bebas untuk diaplikasikan, mulai dari untuk media iklan, website, game, dan sebagainya. Dengan metode ini, hak cipta juga dapat dihargai dan orisinalitas karya juga menjadi sesuatu yang bisa dijamin, tentu saja selama ide karya itu tidak memplagiat karya orang lain.

Maka tidak heran, kalau hari ini, seniman juga bisa coding.




 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 4,358 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan