hihi,lucu juga lihat tulisan ini di situs mail order blackmetal.com. Padahal emailnya udah ngaco, eh…kok yang ditulis alamat kampusnya, lengkap lagi. knapa ngga PO Box aja yah?

This ASSHOLE in INDONESIA submitted 12+ orders - all using a different person’s credit card number. He used the cardholder’s names and credit card numbers: Johnny Medlin, John O’Donnel, Julie Cipolla, Donald Schuler, Gregory Jordan, Francis Monaghan III, Rory Senna, Jeanne Graziani, Julian Slim jr, Dana Fong, Carlon Anderson, Mike Zelley. Yet wanted the orders shipped to Indonesia (YEAH RIGHT, DUDE). WHY DO THESE PEOPLE WASTE THEIR TIME AND OURS WITH THIS BULLSHIT???

anjing123456@themail.com
in unikom(university computer indonesia) in dipati ukur street no.112 bandung, westjava, indonesia 40132

WE DO NOT PROCESS CREDIT CARD ORDERS FROM INDONESIA, PAKISTAN, RUSSIA, EGYPT, MALAYSIA, TURKEY. PERIOD.

Yes itulah seruan saya buat orang-orang di sekitar saya. Menurut saya sudah terlalu banyak korban yang jatuh karena game online. Paling tidak dalam hidup saya, saya sudah melihat beberapa rekan-rekan saya gagal melaksanakan kewajibannya karena kebanyakan bermain game online.

Bermain game online memang berbeda dengan bermain game biasa. Karena model bisnis gamenya pun berbeda. Perusahaan game biasa dinilai kesuksesannya dari berapa banyak gamer yang membeli gem keluaran mereka, perkara setelah itu gamenya ngga dimainkan oleh pembeli, bukan urusan mereka. Sedangkan game online, kesuksesan pembuatnya dinilia dari berapa banyak user yang online setiap hari. Atau dengan akta lain berapa banyak yang memainkan. Itu saja sudah berbeda, makanya tidak heran kalau dibuatlah sistem permainan yang sedemikian adiktif sehingga para gamer online betah duduk berjam-jam (atau bahkan berhari-hari di depan komputer).

Jadi buat yang masih bermain, mungkin sudah saatnya dikurangi main gamenya, ingat kewajiban lain di dunia luar. Apalagi buat mahasiswa ITB. Inget lho, banyak banget anak yang pengen masuk ITB, tapi ngga bisa. Masa kita yang udah punya KTM ITB menyia-nyiakan waktu dengan login di server game terus? :D

Kejadian ini baru saja terjadi sekitar 20 menit yang lalu. Saya berniat mentransfer uang sebesar 151 ribu ruipaih ke seorang rekan. Segera saja saya menuju ATM di kampus. Alhamdulillah, lagi kosong, jadi bisa agak leluasa berlama-lama di ATM. Ketika masuk ke ATM, prosedur biasa untuk mentransfer pun saya lalui.

Masukkan PIN -> Pilih transfer -> Masukkan Nomor rekening tujuan -> Masukkan nominal transfer.

Namun ternyata, saya salah memasukkan nomor rekening tujuan, dan ATM pun kembali meminta saya untuk memasukkan nomor rekening tujuan. Kali ini benar. Namun, ternyata, setelah memasukkan rekening, yang muncul malah layar penarikan uang. Tadinya saya tidak sadar, tetap saja saya masukkan nominal 151 ribu. Namun tetap tidak bisa. Setelah saya perhatikan, ternyata ini memang layar penarikan uang tunai. Waduh, ternyata ada bug nampaknya. Karena saya masih ada urusan lain, maka saya pun menekan tombol cancel dan transaksi pun dibatalkan. Saya pun keluar dari ATM.

Oke, setelah beberapa hari browsing sana-sini, tadi siang akhirnya saya berhasil mendapatkan 2 software EDA yang cukup bagus buat Mac, dan yang terpenting mudah diinstal. Hadirin, saya persembahkan qcad dan qucs. Kedua software ini bisa didownload gratis dari http://naranja.umh.es/~atg.  Saya juga menemukan KiCad yang ternyata cukup sulit dibuild di Mac. Sayangnya saya belum punya cukup waktu untuk mencoba qcad dan qucs. Ketika tulisan ini dibuat, bahkan saya sedang mencoba build KiCad. Kalau Anda berminat mencoba mem-build KiCad, silakan lihat petunjuknya di http://www.zeveland.net/blog/2008/01/05/kicad-for-os-x/ Jadi untuk tulisan yang lebih komprehensif, silakan nantikan di blog ini. Tapi bagi yang sudah mencoba, jangan malu-malu untuk berbagi.

Cheers.

Di postingan sebelumnya, saya sudah membahas tentang beberapa tips untuk membuat musik di komputer. Nah, kali ini kita akan memfokuskan perhatian pada software musik gratis. Mengapa harus gratis? Apa iya freeware-freeware cukup kuat dan berkualitas sebagai tool membuat musik? Dengan senang hati, saya akan menjawab pertanyaan kedua dengan “iya”. Sementara pertanyaan pertama akan kita bahas di paragraf berikut.

Sebagai seseorang yang sudah cukup lama dan antusias memanfaatkan komputer sebagai sarana membuat musik, saya sudah merasakan berbagai macam software musik, mulai dari yang bajakan hingga yang gratis. Mengenai software bajakan, memang itu solusi termudah yang ada di sekitar kita. Anda yang tinggal di Bandung mungkin sudah pernah mengunjungi lapak-lapak di depan Mesjid Salman atau di BEC yang menjual berbagai software bajakan, termasuk software musik. Dengan harga yang cukup murah, kita sudah bisa mencoba software seperti Reason atau Ableton Live (my fav!), yang harga aslinya ketika dikurskan ke rupiah bisa mencapai jutaan rupiah. Faktanya, memang mudah mendapatkan software-software ini. Belum lagi melihat fakta bahwa inilah software-software yang dipakai para musisi dunia. Tapi, software ini bukan tanpa masalah, terutama masalah stabilitas. Seringkali ketika saya sedang mengulik software ini, tiba-tiba software crash, ataupun mendadak latency meningkat yang berakibat soundnya jadi jelek banget. Belum lagi masalah cacat GUI, wah…cukup menyiksa.

ArdourAudacity

Setelah saya membaca wawancara dengan ebberapa musisi luar, ada suatu hal yang saya tangkap di sana. Seringkali mereka menekankan pentingnya memakai software asli dan bukan cracked software. Alasannya mirip dengan masalah yang saya temui ketika memakai software bajakan, yakni stabilitas. Reason yang diakui stabil saja di komputer saya bermasalah.

Nah berkaca dari masalah di atas, saya pun mulai berpikir untuk memakai software asli. Tapi duit dari mana? Nah, untuk itulah, ada ribuan freeware yang siap dipakai, dengan kualitas asik. Untuk DAW (Digital Audio Workstation) ada Ardour atau Reaper yang kualitasnya bagus. Synthesizer? Ada synth1 atau Crystal. Audio editor? Ada Audacity. Wah, pokoknya akan butuh banyak postingan untuk memabahas yang terbaik di setiap kategori software. Saya sendiri sedang berusaha memilih mana yang terbaik di antara freeware-freeware ini. Sejauh ini, yang bisa saya sampaikan adalah mereka semua bagus! Yang jelas, software-software gratis ini sudah banyak tersedia dan tinggal kapan diunduh dan dimanfaatkan. Batasannya, hanya kreativitas Anda.

Freeware-freeware ini dapat didownload dari:

1. http://www.dontcrack.com
2. http://www.kvraudio.com
3. http://www.freemusicsoftware.com

synth1 hydrogen

Sebagai penutup, mungkin perlu digarisbawahi kenapa saya memilih software-software gratis. Mungkin ada yang akan berargumen demi ke-halal-an musik karya kita, atau demi solidaritas sesama programmer. Tapi yang jelas saya memilih software-software ini demi stabilitas dan kenyamanan dalam membuat musik. Sebuah hal yang sangat vital bagi musisi dan pengguna komputer seperti saya. Selamat berkarya!

Wah, ada 15 tips menarik nih yang layak dipraktekkan buat kalian yang ingin memulai membuat musik dengan komputer. Tips ini saya ambil dari situs http://www.musicradar.com, sebuah situs baru yang berisi banyak sumber daya bagi kalian musisi-musisi di luar sana. So, make sure you visit them okay… Silakan dinikmati.

1. It should be a given, but we’ve got to remind you to read the manuals, particularly for your sequencer. They really are your passport to knowledge and experience. Try leaving them in the bathroom or taking them on the bus to work/school/college with you every day.

2. Don’t be tempted to buy everything now. If you get too much software in at once, you simply won’t have time to master it all and will end up missing things.

3. Keep your system as simple as possible. Even experienced producers like to reinstall everything from time to time, as there’s nothing more productive than a blank canvas, so don’t rush to acquire every free plug-in you come across. Check with forums and friends and stick to the really good ones.

4. Try your hand at a few different styles when you’re starting out, as this is the time when habits become cemented. Experimenting with non-conventional techniques for your main genre will stand you in good stead and help your productions to stand out.

5. Try to pick a good spot for your setup. You want somewhere comfortable but without too many distractions, and ideally as far away as possible from anybody who’ll complain about the noise.

6. Pick the right platform for you, not just the most familiar option (you’ll learn fast). These days PCs and Macs of equivalent spec are roughly the same price, so it might just come down to your choice of software (Sonar means PC, Logic means Mac). But remember, Macs can now run Windows natively too.

7. Learn a little about acoustic treatment before you finalise your space. Speakers in corners muddy the bass; speakers halfway between floor and ceiling set up standing waves; hard walls create nasty brightness; straight lines and square rooms are your enemies.

8. Get hold of some acoustic tiles. The best place to look is on eBay, as there are some fantastic bargains to be had. You don’t actually need to cover every surface, but if a hard wall is within sight of the front of your speakers it’s probably worth putting up something to minimise the reflections.

9. The most vital tool when mixing is a decent set of monitor speakers. You simply cannot expect to create a quality mix that’s free of surprises on other systems unless you have a high quality and accurate reference point to begin with. So don’t skimp. Save, save and save some more until you can get some proper monitors.

10. Ignore forums! No, seriously: for more general questions and debates, they’re a hive of ill-informed and subjective speculation masquerading as knowledge! For example, never rely solely on buying advice from a forum – you’ll get 30 answers, even if there are only ten products to choose from. But also…

11. Use forums! They’re great for helping you with your problems, because somebody somewhere will almost certainly have had the same issue you’re having. Got latency troubles with your soundcard? A plug-in won’t open any more? Google it and you’ll almost certainly find a helpful forum post somewhere.

12. Don’t blow all your money on gear until you know you have at least a passion for music production and, ideally, some aptitude. Not every great musician is a great producer and vice versa – they’re different skill sets. Begin with some free software – it’ll certainly be good enough to get you started.

13. If you’re a DJ or aspiring producer, consider going into a pro studio to finish your first couple of tracks. It’s best to wait until you’ve started a few on your own and know the basics, then go in with your idea to watch a pro at work and ask them questions.

14. If you want to make music your life, don’t waste time on intense recording courses. These are designed to teach production and engineering, while you should be concentrating on writing and playing. If you love the technical side, though, they can be a great way in.

15. Don’t try to run before you can walk. It’s easy to have grand ideas, but if you set your sights too high you’ll almost certainly fall short, and there’s nothing more demoralising than that. Begin with an open mind and no expectations – let things happen naturally.

Ada yang gemar mengoleksi kaset? Hmm..buat saya, benda ini begitu nostalgik. Dari kecil juga ibu saya sudah sering membelikan kaset lagu anak-anak, mulai dari semut-semut kecil, Batman, sampai dongeng Sanggar Cerita. Beranjak dewasa, kaset pun makin vital kedudukannya buat saya. Berbagai macam jenis musik yang saya kenal, semua muncul gara-gara sering beli kaset. Memang berbeda dengan katakanlah mendownload mp3 dari internet yang secara disik tidak ada uang yang dikeluarkan, kecuali untuk membayar tagihan internet. Ketika saya sampai rela menyisihkan uang 20 ribu untuk membeli sebuah kaset, berarti saya sudah melalui berbagai studi kelayakan album yang akan saya beli, mulai dari tahu siapa artis itu, bagaimana jenisnya, atau kalau beruntung ya berarti saya sudah tau 1-2 lagu dari album itu. Begitu beli kaset, kaset itu akan saya dengarkan terus dan kalau lagi iseng dan mampu, maka lagu yang enak di album itu saya ulik. Kalau album itu enak, berarti saya tidak ragu untuk mengeluarkan uang demi membeli album lain dengan musik sejenis atau dari artis yang sama. Wah menyenangkan!

Tapi karena siklus industri, sebagaimana dulu piringan hitam atau pita 8 inci dibunuh, kaset pun akan bernasib sama. Kemajuan musik digital dan teknologi pada umumnya, membuat media analog seperti kaset mulai perlahan-lahan menghilang. Memang, kehangatan suara pita magnetik kaset, tidak mudah diawetkan. umur kaset yang bagus memang tidak bertahan lama. Bahkan belakangan ini, fenomena yang saya temui, kaset-kaset keluaran baru cenderung lebih mudah rusak pitanya dibandingkan kaset-kaset lama. Bandingkan dengan CD yang digital. Kualitas suara yang “lebar” dan data yang lebih awet, blum lagi bila di-rip dan diubah ke dalam bentuk mp3/wma/ogg, wah abadilah dia. Makanya tak heran kalau pada akhirnya industri pun beralih ke CD.

Pernah ke toko musik belakangan? Pernah memperhatikan bagaimana rasio CD:kaset yang dijual? Bandingkan, sekarang toko musik makin dipenuhi CD dan kaset makin tersudut. Masalahnya, CD masih mahal, kurang cocok buat mahasiswa seperti saya,hehe… Jadi ngga heran, kalau saya pun cuma mampu beli CD band-band lokal, yang notabene harganya sama kaya 2 kaset (dulu juga kalau sekali beli kaset langsung 2). Bahkan konon katanya, pabrik kaset di Indonesia sekarang cuma produksi kaset dalam rangka menghabiskan stok pita. Di luar negri pun kaset sudah punah. Jadi ya tinggal tunggu waktu sebelum akhirnya kaset menghilang dari toko-toko musik di dekat kita. Tak ada yang bisa kita lakukan, ya memang begitu siklus industri, ada yang datang ada yang pergi. Yang bisa kita lakukan cuma silakan menghabiskan sisa umur kaset yang tersisa. Kumpulkan semua kaset yang bisa dikoleksi. Saya? Hm..nampaknya saya harus melengkapi koleksi kaset Metallica dan beberapa album metal legendaris lainnya. Let’s go.

Huh, saya kesal sekali dengan acara TV atau film-film di bioskop sekarang. Sebenernya feeling saya udah ngga enak abis film Ayat-Ayat Cinta booming. Saya menduga, pasti sebentar lagi bakal banyak film-film yang menjual percintaan dibungkus pemeran yang gemar menyebut nama Allah. Bener ajah. Tadi malem saya nonton TV dan di situ ada iklan sinetron berjudul Munajah Cinta. Kalo diiat trailernya mah ya gitu..orang alim pacaran, wae lah.. Uda gitu pemeran cewenya Rianty pula,hahaha..ini latah atau apa?

Oke, terlepas dari siapa pemerannya, yang jelas saya tidak setuju kalau Tuhan dijual dengan cara seperti ini. Kalau dulu sinetron yang menjual Allah sebagai Sang Maha Menghukum dan Pak Ustadz sebagai si pembasmi hantu sempat rame di TV. Sekarang gantian modusnya, menjual Tuhan lewat bungkus orang pake peci dan berjilbab pacaran. Oh tidak. Saya masih ngga ngerti, bagaimana sih proses pengambilan keputusannya sampai orang tega melakukan hal seperti ini. Padahal yah, kalau ingin menampilkan film rohani, ya ada banyak sekali isu sosial yang bisa diangkat tanpa perlu menampilkan urusan percintaan atau hantu. Mengapa tidak membuat film rohani seperti John Q atau Blood Diamond misalnya. Film-film yang isu sosialnya kental sekali, sehingga di situ Tuhan bisa ditampilkan secara gamblang dan implisit, tanpa perlu mengobral kata “Masya Allah” atau “Astaghfirullah”.

Soalnya, kalau ngga pake Cinta, filmnya nggak laku Dit.

Lihat? Tuh, Tuhan lagi dijual. Kalau mau bikin film rohani mah ngga usah perduliin film ini laku apa ngga, selama temanya memang bagus, penikmat film pasti akan nonton kok. Selama filmnya masih diproduseri ama India-india gila duit yang cuma bisa menjual sinetron murahan yang mengeksploitasi ABG dan berharap ditonton ibu-ibu kantoran, ya jangan harap akan dijumpai film rohani yang berbobot. Percayalah. It’s all about the money, not the morale of the story. Makanya saya heran ama orang yang tersentuh abis nonton Ayat-ayat Cinta. Jelas itu film dibikin buat nyari duit dan bukan buat bikin orang inget Tuhan. Gila.

Selanjutnya tinggal kita tunggu bulan Ramadhan tiba. Di mana artis-artis pada latah pake jilbab dan mereka yang ngeband tiba-tiba pada sibuk bikin album rohani. Jual Tuhan aja terus. Dasar pelaku industri materialistis!

Di Qur’an disebutkan (saya lupa surat apa dan ayat apa) kalau suatu saat akan dijumpai orang-orang yang menjual agama. Mungkinkah ini saatnya? Masya Allah. Na’uudzubilaahi min dzaalika.

Wah..kemarin saya mulai mengerjakan tugas akhir, perjalanan pertama untuk sebuah jalan panjang sudah mulai dijalankan. Hm..langkah pertama ya simpel, mencari software untuk membuat PCB. Karena saya pikir saya akan banyak menghabiskan waktu di lab, jadi saya pikir akan lebih baik kalau saya punya software untuk mensimulasikan rangkaian sekaligus membuat PCB di Macbook saya tercinta. Tentunya saya akn sangat ogah memakai software berbayar, makanya langsung googling mencari software EDA (electronic design automation) gratisan.

Ternyata software yang nampak paling menarik adalah gEDA. Dengan software ini, hampir semua yang saya inginkan bisa dilakukan. Namun ternyata eh ternyata..instalasinya cukup susah. Soalnya dia menggunakna Fink, semacam packet manager untuk Mac (kalau di Ubuntu namanya Synaptic). Fiuh,,susah juga karena ternyata koneksi ke server Fink dari dalam kampus tidak bisa dilakukan, oh tidak..

Ya sementara baru itu yang bisa saya laporkan. Kapan-kapan akan saya update, jadi teman-teman penggemar elektronika yang memakai Mac bisa juga berkarya.

Menurut berita yang dlansir computerworld.com tanggal 28 Maret kemarin, ternyata Mac paling mudah dihack! Ini dungkapkan oleh seorang pemenang kontes keamanan “From PWN to OWN” yang diadakan di Vancouver, British Columbia. Ia lebih memilih untuk menghack Si Mac, ketimbang Ubuntu 7.10 atau Windows Vista Ultimate SP 1 yang juga disediakan panitia. Si pemenang yang bernama Charlie Miller, atas keberhasilannya meng-hack sebuah Macbook Air diganjar hadiah $ 10,000. Tidak dijelaskan bagian mana dari Mac yang ia hack, namun ia membocorkan semua ada hubungannya dengan Safari 3.1, versi terbaru dari browser bawaan Mac. Ia malah lebih lanjut mengatakan bahwa keamanan Mac lebih baik 4 bulan lalu sebelum update keamanan terbaru dirilis.

Jadi, buat yang memakai Mac (termasuk saya), berhati-hatilah, ternyata OS favorit kita ini tidak sepenuhnya aman.

Berita lebih lanjut bisa dilihat di sini

Next Page »