Archive for the 'MusiK!' Category

28
Oct
09

My top 20 tracks from the last 3 months

So basically these are the tunes that accompanied me after exhausting those office hours. 3 months are relevant enough, therefore I guess I still love listening to any of these songs these days. This data is as testified by last.fm :D

1. 3 Inches of Blood – Battles and Brotherhood
2. Steve Aoki – Shake And Pop (Feat. Kid Sister, With Green Velvet)
3. 3 Inches of Blood – Call of the Hammer
4. Job for a Cowboy – Regurgitated Disinformation
5. The Black Dahlia Murder – Christ Deformed
6. Yelle – Je Veux Te Voir
7. Coheed and Cambria – Welcome Home
8. The Black Dahlia Murder – I Will Return
9. 3 Inches of Blood – Rock In Hell
10. The Black Dahlia Murder – Death Panorama
11. Yelle – Amour Du Sol
12. The Black Dahlia Murder – Throne Of Lunacy
13. The Black Dahlia Murder – Eyes Of Thousand
14. 3 Inches of Blood – Silent Killer
15. Mr. Oizo – Minuteman’s Pulse
16. Job for a Cowboy – March To Global Enslavement
17. Himsa – Summon In Thunder
18. Yelle – Mal Poli
19. Killswitch Engage – Holy Diver (Dio Cover)
20. Brand New – Good to Know That If I Ever Need Attention All I Have to Do Is Die

Dominated by The Black Dahlia Murder, 3 Inches of Blood, and Yelle, hahaha… Hmm…i should make a mixtape :)

23
Oct
09

Lite: An Interactive Art Installation by Adityo Pratomo

So finally, after all the hassle, limited time, and any kind of obstacles, I’ve managed to finished my interactive art work and exhibited it in an exhibition named Resonance. Resonance itself is a exhibition that exhibited interactive art and video art, and this is part of Helarfest 2009. Totally, there are 11 works that displayed in the exhibition. You can read more about Resonance and also Helarfest 2009 in general, by clicking here .

Lite in action

Lite in action

So, now let me introduce you to my work, I name it “Lite”. In a brief, in this work, I create an environment for a generative audiovisual art to grow. Here, light is the main character. Light is used as an argument for the algorithm that will generate some form of audiovisual. Basically, by moving a light source in front of the computer, people can generate music and visualization.

Technically speaking, in this work I use Processing and Pure Data. Processing is used to track light source movement in front of the camera. The output of this, is the coordinate of the light source, in x and y coordinate. The value of x and y, is then used as an argument in Pure Data to generate frequency in a simple synthesizer/16 step sequencer. In Pure Data, there will be 3 synthesizers that I made, one FM and one AM are used as a lead part while one simple Sine oscillator is heavily low passed and used as a low

frequency part of the sequence. How 2 values (x and y) are used as an input to the 32 frequency of the synthesizers are purely algorithm. I used simple math between these x and y to make them generate specific frequencies that relies on their respective value. So, different light source position will generate different part from the Pure Data. Processing and Pure Data are connected through OSC protocol. The Processing code is based on a Brightness Tracking Code from the Processing Example, while the Pure Data sequencer is based on a lesson in Pure Data Floss Manual.

Personally speaking, this is quite an achievement for me. I’ve managed to finish my

second interactive art work (albeit a simple one) and this is my first ever exhibited work. Spiritually, I also think that finishing an artwork is a step ahead of finding myself as a complete human. Having said this, now I’m ready to create another installation. So, if anyone out there seek for collaborator, I’m more than ready to contribute.

This work will be exhibited until 30 October 2009 at CCF, Jalan Purnawarman 32, Bandung. So, if you happened to be in Bandung, then make sure you visit this marvelous exhibition.

13
Oct
09

How To Install Processing on Ubuntu

Now this one is more straightforward than Pd-extended. Just some easy steps. I perform this last night on My Ubuntu 8.04 Hardy Heron on a 64-bit platform.

1. Download the .tgz Processing for Linux file that available at processing.org/download
2. Download and install the Java Runtime for Ubuntu that can be searched using Synaptic. I use Java Runtime Environment 6.
3. Download and install libstdc++6 also using Synaptic. I’ve read here that using libstdc++5 is also possible.
4. Extract the Processing.tgz.
5. Run the file “Processing”.

That’s it. 5 easy steps. Apparently the Processing official site told that Ubuntu 8.04 64-bit and the 7.10 is the testing platforms on their lab. So I believe this steps would also applicable in 7.10. I’m not sure can this also be done in other versions of Ubuntu. But, you can try it.

As usual, pls comment if you find something’s wrong here.

Cheers

12
Oct
09

Installing Pure Data Extended on 64-bit Ubuntu

Okay, it’s 11 PM right now, i should get some sleep. But, before I go to sleep, here’s some step for you who want to install Pure Data extended or Pd-extended, to abbreviate, on a 64-bit Ubuntu (I use Hardy Heron, so I don’t know if other version would work). There’s no Pd-extended installer for 64-bit system in Pd official site, but believe me, this way would work. Just done it myself :)
Continue reading ‘Installing Pure Data Extended on 64-bit Ubuntu’

12
Oct
09

Emergency! Darurat!

Beberapa waktu yang lalu saya diajak teman untuk pameran di nusubstance 209, sebuah pameran yang menampilkan instalasi dan karya-karya seni multimedia interaktif. Nampak menarik, karena saya punya sesuatu untuk dipamerkan.

Namun, ketika saya tanya kapan tanggalnya, teman saya dengan enteng menjawab, 19 Oktober, yang sama dengan minggu depan! Hahaha… Padahal hingga tadi malam, alat buatan saya ini juga belum juga jadi.

Oke, jadi hingga at least tanggal 18, saya punya list yang harus saya kerjakan:

1. Membersihkan Ubuntu 8.04 saya, jadi bisa dipakai sistem dasar yang hanya untuk menjalankan karya saya
2. Menginstal Processing dan Pure Data extended
3. Menjalankan program yang sudah saya buat di keduanya
4. Memastikan keduanya bisa berkomunikasi via OSC
5. Menginstal webcam yang bisa berjalan di atas Processing
6. Membuat instalasi fisik

Fiuh… 6 langkah yang pastinya tidak sebentar. Okey then, mulai malam ini harus bergerak. Jadi kalau dalam beberapa waktu saya tidak aktif di dunia maya, mohon maaf ya :)

Doakan saya sukses, dan saya akan segera mengabari, sebenarnya apa sih yang saya bikin :)

Cheers

02
Oct
09

saat seniman juga coding: pendekatan lain dalam penciptaan audiovisual interaktif

Media digital belakangan ini menjadi salah satu media yang banyak digunakan seniman untuk berekspresi. Media ini menawarkan berbagai kemudahan bagi penggunanya. Selain lebih awet, format digital juga mudah untuk direkayasa dan digabungkan dengan bentuk digital lainnya. Contohnya, video klip yang menggabungkan video dengan audio, atau game yang menggabungkan animasi, audio, algoritma, dan interaktivitas. Interaktivitas ini juga dikembangkan lebih lanjut dengan menggabungkan komputer dengan sensor-sensor tertentu untuk menghasilkan sebuah bentuk baru komunikasi antara manusia dengan komputer. Maka tak heran bila media digital menjadi media baru yang banyak digunakan untuk membuat karya audiovisual interaktif.

Namun, untuk membuat sebuah karya yang sah nilai komersilnya, perlu diperhatikan aspek legalitas dari proses pembuatan karya tersebut, seperti legalitas tool yang digunakan, baik itu hardware maupun software, dan juga ada tidaknya unsur dari karya orang lain. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memberikan contoh pendekatan lain dalam membuat sebuah karya kreatif di bidang audiovisual interaktif.

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membaca buku yang membahas secara mendalam tentang VJ (Visual Jockey) sebagai sebuah kultur audiovisual. Buku ini berisi wawancara dengan beberapa VJ terkemuka di seluruh dunia dan juga tinjauan historis dan teknikal mengenai profesi VJ itu sendiri. VJ di sini bukanlah VJ yang menjadi pembawa acara musik di TV, melainkan seorang yang menampilkan visualisasi sebagai pengiring musik, baik yang diputar di klub maupun yang dimainkan langsung dalam format band.

Dalam bagian wawancara, ada sebuah pertanyaan yang selalu ditanyakan berulang kali kepada hampir semua VJ, yakni bagaimana mereka berurusan dengan copyright, atau hak cipta dalam setiap visualisasi yang mereka tampilkan, baik itu gambar maupun potongan film. Jawaban mereka berbeda-beda, namun beberapa memberikan jawaban yang cukup unik: mereka tidak peduli karena mereka justru yakin bahwa yang mereka tampilkan adalah murni karya mereka sendiri, murni sesuatu yang mereka program sendiri.

Para VJ yang melakukan programming sendiri ini, bahkan lebih lanjut menunjukkan bahwa dengan metode ini, mereka bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka, yakni sebuah karya yang menunujukkan interaktivitas antara audio dan visual. Membuat visual yang berinteraksi dengan frekuensi-frekuensi tertentu dari musik yang dimainkan DJ, atau bahkan sesuatu yang bisa bereaksi terhadap perilaku penonton dan membuat pertunjukan musik semakin semarak. Dari sini nampak bahwa dengan melakukan programming, para VJ ini bisa mewujudkan khayalan mereka tentang bentuk interaksi manusia dengan media komputer.

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

Saat menghubungkan antara penciptaan dengan software melalui media komputer, aspek legalitas software yang digunakan, akan menjadi sesuatu yang vital. Tentunya akan nampak konyol saat menciptakan sesuatu yang murni buatan diri sendiri namun pembuatannya menggunakan software bajakan. Ada pelanggaran hak cipta juga di situ. Dengan melakukan programming sendiri, baik dengan menggunakan bahasa high level seperti C++, Java, atau Visual Basic, ataupun dengan programming environment open source yang sengaja dibuat untuk karya seni semacam Processing, Pure Data, Design By Numbers, dan Gridflow, tentu saja aspek penggunaan software bajakan sebagai tool kreatif juga bisa dihindari.

Secara filosofis anggaplah bahasa pemrograman ini sebagai kuas dan cat, dan kanvasnya adalah komputer. Komputer ini akan diberikan kode-kode untuk membuatnya bekerja menuruti imajinasi si seniman. Hasilnya sebuah karya seni di ranah digital yang bebas untuk diaplikasikan, mulai dari untuk media iklan, website, game, dan sebagainya. Dengan metode ini, hak cipta juga dapat dihargai dan orisinalitas karya juga menjadi sesuatu yang bisa dijamin, tentu saja selama ide karya itu tidak memplagiat karya orang lain.

Maka tidak heran, kalau hari ini, seniman juga bisa coding.

01
Oct
09

Musisi dan Engineer Seharusnya Bisa Menjadi 2 Profesi yang Saling Melengkapi

Beberapa waktu yang lalu saya menonton video wawancara dengan deadmau5, seorang DJ nyentrik dari Kanada yang prestasinya cukup gemilang. Dalam wawancara itu dia sempat berkata bagaimana dia bekerja sama dengan pembuat monome, sebuah kontroler yang menggunakan protokol OSC, untuk membuat monome mengendalikan Ableton Live. Pada proses itu dia berkata kalau dia juga melakukan programming dengan Python untuk mencapai tujuannya. Wow. Saya tidak menyangka kalau ternyata menjadi DJ jaman sekarang pun, musti punya pengetahuan soal progaramming seperti ini.

Kasus lain ialah Trent Reznor, si mastermind Nine Inch Nails. Saya membaca di salah satu tweet-nya, kalau dia sedang membuat aplikasi NIN untuk iPhone. Wow. Apapula ini? Meskipun saya sering mendengar dia memang hobi mengutak-atik hardware dan software, saya tidak menyangka kalau dia sampai benar-benar membuat aplikasi.

Dari dua kejadian itu saya pun mengambil kesimpulan, kalau di era di mana teknologi alat musik sudah maju sedemikian pesat, nampaknya pengetahuan sebagai engineer khususnya di bidang elektro atau komputer nampaknya memang cukup vital. Terlebih ketika banyak software maupun hardware musik yang mendorong eksplorasitidak hanya dari segi teknis pemakaian tapi juga teknis pembuatan untuk mendorong adanya bentuk interaksi baru dalam menghasilkan musik.

Contoh nyata dari itu semua adalah banyaknya software dan hardware musik yang bersifat open source. Perkembangannya pun begitu pesat. Monome, x0b0x, MIDIBox, adalah sebagian dari open source hardware yang bisa digunakan untuk bermusik. Pengembangan dari masing-masing ini pun begitu banyak hingga menghasilkan berbagai macam alat dengan berbagai fungsi. Di software juga demikian. Pure Data dan Processing adalah 2 contoh kecil software open source yang begitu hebat ketika digunakan untuk bermusik. Penggunaan alat-alat ini memang tidak murni mengharuskan orang untuk bisa programming, tapi ketika kita akan membuat semua perangkat bekerja menurut keinginan kita, maka keterampilan dalam memaksa komputer, atau hardware pada umumnya, untuk bekerja sesuai desain dan keinginan kita, menjadi sesuatu yang cukup esensial.

Mungkin pembicaraan ini lebih banyak ke arah konsep teknikal. Karena betapapun hebatnya sebuah alat, pada akhirnya ia akan nampak berbeda jika dipakai oleh orang yang tepat. Alat musik akan lebih terasa hebatnya kalau berada di tangan seorang yang kreatif dan berjiwa seni tinggi. Nah, ini juga yang menurut saya musisi dan engineer mustinya saling melengkapi. Jiwa kreatif akan membuat seorang engineer lebih bisa memecahkan masalah sementara dengan skill seorang engineer, seorang musisi bisa merealisasikan khayalan seninya. Menarik.

Kalau sudah begini, ingin rasanya mengambil waktu luang untuk mengutak-atik komputer, melakukan sedikit coding sana-sini untuk membuat musik :)

15
May
09

My Laptop Based Music Production/Performance Setup

Halo semua!
Setelah saya perhatikan, nampaknya cukup banyak yang mampir kesini dan mencari informasi seputar hardware ataupun software untuk bermusik. Jadi saya pikir, mungkin akan lebih informatif kalau saya turut berbagi setup saya, mungkin saja ada bisa dijadikan referensi untuk yang berminat. So here it is:

1. Laptop: Macbook Putih Intel Core 2 Duo 2.0 GHz RAM 1 GB, Mac OS X 10.4 Tiger
2. Audio Interface: M-Audio Firewire 410
3. Midi Controller: Novation Remote SL 25 Compact
4. Headphone Monitor: AKG K77
5. Software: Ableton Live 6, Reason 4, GarageBand, Pure Data, SuperCollider, berbagai macam VST gratis, software instrumen bonus dan sample CD
6. Synth: Alesis Micron
7. Gitar: Epiphone Les Paul
8. Efek: Line 6 FM4 dan DD4, Boss DD3, Ibanez TS 808 dan WD 7.

Peralatan-peralatan tadi dihubungkan sebagai berikut:
setup

Setup itu saya gunakan sebagai berikut. Audio Interface yang terhubung ke Laptop digunakan sebagai tempat interfacing masukan audio dari instrumen lain maupun keluaran audio ke headphone monitor. Device ini terhubung melalui port firewire ke Macbook. Di Macbook, dijalankan program Ableton Live 6 sebagai sequencer, host ReWire untuk Reason maupun efek dan instrumen VST, sekaligus juga digunakan untuk Performance tool (DJ ataupun Performance elektronik lainnya). Setiap parameter si Ableton kemudian bisa dikontrol dengan MIDI controller Novation. Jumlah knob, pad, maupun tuts yang memadai dari kontroler ini, sejauh ini saya rasa cukup untuk melakukan hal-hal yang diperlukan seperit mengendalikan parameter efek/instrumen, maupun untuk memainkan instrumen itu sendiri. Synth Alesis, software Pure Data dan SuperCollider digunakan untuk menambah keragaman bunyi dan biasanya dijadikan sebagai file audio di Live.

SO there it is, setup saya untuk sementara. Soalnya, saya juga sudah membidik beberapa instrumen lain, hehehe.. Tapi untuk sekarang, saya rasa dengan setup seperti ini sudah cukup. Sekarang mari berkarya. Semoga postingan ini cukup membantu :)

14
May
09

SuperCollider 3.3 Released!

Tadi pagi iseng-iseng buka situs SuperCollider . Dari situ baru tahu ternyata April kemaren, Versi 3.3 dari bahasa pemrograman oke ini sudah keluar. Yeah, jadi tak sabar ingin mendownload sepulang dari kantor. Nampaknya rilisan terbaru ini sudah mendkung Windows dengan lebih baik, sehingga niatan awal saya untuk memberikan beberapa tutorial membuat synthesizer dengan bahasa pemrograman ini bisa saya eksekusi. Tadinya saya menunda niat ini, karena takut teman-teman yang memakai Windows tidak bisa ikut menikmati, tapi berhubung sekarang sudah bisa, jadi ya mari kita nantikan tutorial ini.

Tapi apa sih SuperCollider? Kalau mengutip dari websitenya sih,

SuperCollider is an environment and programming language for real time audio synthesis and algorithmic composition. It provides an interpreted object-oriented language which functions as a network client to a state of the art, realtime sound synthesis server. SuperCollider was written by James McCartney over a period of many years, and is now an open source (GPL) project maintained and developed by various people. It is used by musiciansscientists, and artists working with sound.

Intinya dengan menggunakan bahasa ini, pemrograman sintesis gelombang suara bisa dilakukan dengan baik. Hasilnya juga menurut saya sangat baik. Tebal. Lebih tebal dari synthesizer Alesis Micron saya.

Jadi, tunggu apalagi? Ayo unduh dan mari kita pesta frekuensi audio :)

Baca juga:
Super Collider di wiki

30
Nov
08

Pentingnya Memperjelas Kebutuhan

Kalau ada satu hal yang saya pelajari dari mengerjakan Tugas Akhir saya, maka tak lain hal itu adalah pentingnya memperjelas apa yang dibutuhkan dari suatu sistem pada saat perancangan sistem tersebut. Dan percaya atau tidak, ternyata hal itu sangat membantu dalam kehidupan berkomputer saya sehari-hari.

Saya ambil contoh ketika saat ini space hardisk di PC dan Macbook saya mulai terasa sempit. Di PC, setiap saya ingin menginstalasi game baru, selalu saja ada yang harus saya hapus. Sementara Macbook saya terasa mulai sedikit melambat (tapi ini belum saya buktikan melalui pengukuran yang presisi, hanya perasaan saja). Kalau begitu berarti tidak ada jalan lain, operasi pembersihan hardisk harus segera dimulai. Namun pertanyaannya, apa yang harus dibersihkan?

Untuk itu saya membuat daftar, kegiatan apa saja yang biasa saya lakukan baik di PC maupun Macbook. Sehingga segala sesuatu yang berada di luar daftar itu bisa dihapus dengan aman. Dan inilah daftar itu:

- Ber-Internet (browsing, chatting, download melalui torrent)
- Memainkan file multimedia
- Programming (Java, C, C++)
- Membuat musik
- Game (Spore, FM 2009, PES 2009)
- Office
- Mengolah gambar

Dari situ kemudian saya memilah, mana saja yang bisa dilakukan di PC, mana yang bisa di Macbook, mana yang bisa di keduanya. Hei, kalau ada 2 tempat untuk bekerja, berarti mustinya tool yang dibutuhkan bisa disebar di 2 tempat dan tidak dibiarkan menumpuk di 1 tempat. Hasilnya, mengolah gambar, office dan game akan saya tetap fokuskan di PC, sementara untuk membuat musik saya fokuskan di Macbook saja. Ini karena selama pengalaman saya, membuat musik di Mac jauh lebih nyaman dibandingkan di PC Windows saya, dan memainkan game jauh lebih menyenangkan di PC. Office 2008 di Mac nampaknya bisa saya hilangkan untuk lebih menghemat ruang hardisk dan sebagai gantinya saya bisa menggunakan Neo Office yang lebih hemat ruang, mengingat pada akhirnya mungkin Macbook tidak akan digunakan untuk melakukan pembuatan dokumen yang rumit.

Beres semua, sekarang tinggal eksekusi. :)

Oh ya, ada 1 hal lagi yang bisa didapatkan dari memiliki list kebutuhan seperti ini. Ketika kita ingin menginstalasi OS baru, kita cukup melihat apakah OS yang diinginkan bisa memenuhi kebutuhan kita. Sebagai contoh, saya melihat kegiatan membuat dokumen, berinternet, programming serta membuat dan mendengarkan musik sebagai sebuah hal yang wajib bisa saya lakukan di sebuah OS. Maka dari itu ketika saya memutuskan untuk mencoba hidup dengan Ubuntu, saya tidak merasa kehilangan sesuatu, karena semua kebutuhan saya sudah ada di situ. Pun demikian ketika saya tiba-tiba penasaran ingin mencoba FreeBSD (yang hingga detik ini pun belum saya lakukan, baru sebatas ingin tahu) saya bisa menilai apakah sistem ini layak untuk dicoba atau tidak.

Akhir kata tentu saja, pemilihan sistem juga bergantung pada hardware apa yang akan digunakan. Namun, dengan memiliki spesifikasi kebutuhan yang jelas, kita akan lebih mudah memilih dan merancang sebuah sistem.




 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 4,270 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan