Archive for the 'MusiK!' Category

10
Apr
10

gig review: Rolling Stone Release Party, 10 April 2010

Rolling Stone Release Party, sebuah acara rutin yang digelar oleh majalah Rolling Stone Indonesia (RSI). Ini pertama kali saya datang ke acara ini. Komunal dan Seringai, 2 band favorit saya akan tampil malam ini, menjadi magnet yang cukup kuat bagi saya untuk pulang cepat tepat waktu dan bergegas menuju venue di Ampera Raya 16, kantor Rolling Stone Indonesia. Selain mereka berdua, masih ada The Authentics, band ska yang cukup sering manggung belakangan ini (dan saya juga cukup penasaran ingin melihat aksi mereka) serta Project The Fly (saya nggak peduli ini siapa).

Saya tiba pukul 8 lebih sedikit, acara belum dimulai, saya langsung membeli tiket, dan oh, ada bonus rupanya, 50 merchandise Ouval Research bagi 50 pengunjung pertama, yang mana saya rupanya adalah pengungjung ke-50. Jadi, mohon maaf bagi yang mengantri di belakang saya. Sempat melihat Ricky Siahaan, gitaris Seringai yang juga penulis di RSI, agak terbersit di otak saya ingin menyapanya dan berkata “Mas, saya mau dong nulis buat Rolling stone, tapi gimana caranya ya?” dan entah mengapa pertanyaan itu tidak jadi saya lontarkan.

Continue reading ‘gig review: Rolling Stone Release Party, 10 April 2010′

20
Dec
09

These R Fake’s My Boyfriend Doesn’t Love Me is on top of ardan’s indie 7 chart

Good news! Thank you so much for everyone who made this possible. Hope this will further affect the band in a positive way e.g: more gig! hahaha… For those of you who hasn’t get a chance to hear this song, well you can take a listen at These R Fake’s myspace page, which is www.myspace.com/theserfake. And for those of you who want to hear this song played live (believe me it’s one of those mandatory song on our setlist) then please, don’t hesitate to book us for a gig :)

19
Dec
09

Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress

Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress

Mari saya mulai review ini dengan membandingkan Tika and The Dissidents dengan Lamb of God. Bulan Maret lalu, Lamb of God, salah satu band metal yang saya sukai datang ke Jakarta dan tentunya mengadakan konser di sini. Hasilnya, saya kecewa karena mereka bermain tanpa perasaan. Beberapa minggu kemudian saya membeli CD album terakhir mereka, Wrath. Hasilnya, saya kecewa dua kali.

Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan menyaksikan Tika and The Dissidents dalam format akustik di sebuah daerah di Senayan. Hasilnya, saya tercengang, bagus banget! Dan akhirnya saya pun membeli album terbaru mereka, The Headless Songstress, dan bisa ditebak saya tercengang kembali.

The Headless Songstress adalah sebuah album yang dibuat dengan hati. Setiap lagunya dikomposisi secara hati-hati, perlahan-lahan, setiap detail diperhatikan betul, setiap sound yang muncul ditempatkan di tempat yang pas. Saya selalu kagum dengan album yang menampilkan instrumentasi yang tidak standar (baca: gitar, bass drum), namun ada kalanya instrumentasi tersebut ditempatkan hanya untuk menambah nilai jual. Berbeda di sini, setiap nada yang muncul entah itu dari harmonika, akordion, horn section atau lainnya memang diberikan peran signifikan masing-masing. Bahkan paduan suara pun dijadikan instrumen tersendiri.

Continue reading ‘Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress’

19
Dec
09

Review Album: Pee Wee Gaskins – The Sophomore

Sebagai bagian dari penutup tahun 2009 yang indah ini. apres! ITB membuat daftar album terbaik indonesia tahun 2009, kebetulan saya mendapat bagian untuk mereview album dari Pee Wee Gaskins dan Tika. So, inilah review untuk album Pee Wee Gaskins. (note: link ke list 10 album terbaiknya akan saya cantumkan setelah artikelnya beres, anggap saja ini pemanasan, hehe…)

==========================================

Review Album:
Pee Wee Gaskins – Sophomore


Pada saat saya menulis review ini, seharusnya komparasi antara Pee Wee Gaskins (PWG) dengan band-band pop-punk seperti The Get Up Kids, New Found Glory, atau bahkan Rocket Rockers seharusnya sudah tidak lagi dikemukakan. Sebagai sebuah band tahun ini mereka sudah mencapai level selanjutnya. Sejujurnya saya agak-agak terlewat mengapa mereka bisa sebesar sekarang. Saya tidak tahu apakah fenomena munculnya sekumpulan anak-anak ABG labil yang berdandan dengan topi merah (tidak dibalik) bertuliskan “Dork”, berkaos cerah, bercelana jins dan bersepatu cerah juga yan menamakan diri mereka (atau dinamakan?) Party Dorks itu murni disebabkan oleh kekuatan musik dari PWG atau apakah ini keberhasilan promosi dari PWG? Belum lagi ketika mengetahui bahwa sudah ada yang namanya Anti Pee Wee Gaskins, aih, itu semua tanda kalau band ini memang sudah besar.

Maka dari itu, meskipun saya amat sangat yakin kalau album ini bukan dibuat untuk pria seumuran saya, saya memaksa diri saya untuk membeli albumnya dan kemudian mereviewnya. Saya akan terjun langsung ke jualan utama mereka: musiknya. Saya tidak akan mempertimbangkan bagaimana perilaku personil band ini di atas dan di luar panggung, saya tidak akan menyinggung performa live mereka, saya hanya akan menilai album Sophomore mereka ini. Anggap saya sedang mengulas nasi goreng buatan Angie, si wanita tuna susila. Saya tahu kelakuan si Angie ini minus, tapi kalau sedang menilai nasi gorengnya, mustinya ya hanya nasi gorengnya yang jadi bahan penilaian saya.

Continue reading ‘Review Album: Pee Wee Gaskins – The Sophomore’

28
Oct
09

My top 20 tracks from the last 3 months

So basically these are the tunes that accompanied me after exhausting those office hours. 3 months are relevant enough, therefore I guess I still love listening to any of these songs these days. This data is as testified by last.fm :D

1. 3 Inches of Blood – Battles and Brotherhood
2. Steve Aoki – Shake And Pop (Feat. Kid Sister, With Green Velvet)
3. 3 Inches of Blood – Call of the Hammer
4. Job for a Cowboy – Regurgitated Disinformation
5. The Black Dahlia Murder – Christ Deformed
6. Yelle – Je Veux Te Voir
7. Coheed and Cambria – Welcome Home
8. The Black Dahlia Murder – I Will Return
9. 3 Inches of Blood – Rock In Hell
10. The Black Dahlia Murder – Death Panorama
11. Yelle – Amour Du Sol
12. The Black Dahlia Murder – Throne Of Lunacy
13. The Black Dahlia Murder – Eyes Of Thousand
14. 3 Inches of Blood – Silent Killer
15. Mr. Oizo – Minuteman’s Pulse
16. Job for a Cowboy – March To Global Enslavement
17. Himsa – Summon In Thunder
18. Yelle – Mal Poli
19. Killswitch Engage – Holy Diver (Dio Cover)
20. Brand New – Good to Know That If I Ever Need Attention All I Have to Do Is Die

Dominated by The Black Dahlia Murder, 3 Inches of Blood, and Yelle, hahaha… Hmm…i should make a mixtape :)

23
Oct
09

Lite: An Interactive Art Installation by Adityo Pratomo

So finally, after all the hassle, limited time, and any kind of obstacles, I’ve managed to finished my interactive art work and exhibited it in an exhibition named Resonance. Resonance itself is a exhibition that exhibited interactive art and video art, and this is part of Helarfest 2009. Totally, there are 11 works that displayed in the exhibition. You can read more about Resonance and also Helarfest 2009 in general, by clicking here .

Lite in action

Lite in action

So, now let me introduce you to my work, I name it “Lite”. In a brief, in this work, I create an environment for a generative audiovisual art to grow. Here, light is the main character. Light is used as an argument for the algorithm that will generate some form of audiovisual. Basically, by moving a light source in front of the computer, people can generate music and visualization.

Technically speaking, in this work I use Processing and Pure Data. Processing is used to track light source movement in front of the camera. The output of this, is the coordinate of the light source, in x and y coordinate. The value of x and y, is then used as an argument in Pure Data to generate frequency in a simple synthesizer/16 step sequencer. In Pure Data, there will be 3 synthesizers that I made, one FM and one AM are used as a lead part while one simple Sine oscillator is heavily low passed and used as a low

frequency part of the sequence. How 2 values (x and y) are used as an input to the 32 frequency of the synthesizers are purely algorithm. I used simple math between these x and y to make them generate specific frequencies that relies on their respective value. So, different light source position will generate different part from the Pure Data. Processing and Pure Data are connected through OSC protocol. The Processing code is based on a Brightness Tracking Code from the Processing Example, while the Pure Data sequencer is based on a lesson in Pure Data Floss Manual.

Personally speaking, this is quite an achievement for me. I’ve managed to finish my

second interactive art work (albeit a simple one) and this is my first ever exhibited work. Spiritually, I also think that finishing an artwork is a step ahead of finding myself as a complete human. Having said this, now I’m ready to create another installation. So, if anyone out there seek for collaborator, I’m more than ready to contribute.

This work will be exhibited until 30 October 2009 at CCF, Jalan Purnawarman 32, Bandung. So, if you happened to be in Bandung, then make sure you visit this marvelous exhibition.

13
Oct
09

How To Install Processing on Ubuntu

Now this one is more straightforward than Pd-extended. Just some easy steps. I perform this last night on My Ubuntu 8.04 Hardy Heron on a 64-bit platform.

1. Download the .tgz Processing for Linux file that available at processing.org/download
2. Download and install the Java Runtime for Ubuntu that can be searched using Synaptic. I use Java Runtime Environment 6.
3. Download and install libstdc++6 also using Synaptic. I’ve read here that using libstdc++5 is also possible.
4. Extract the Processing.tgz.
5. Run the file “Processing”.

That’s it. 5 easy steps. Apparently the Processing official site told that Ubuntu 8.04 64-bit and the 7.10 is the testing platforms on their lab. So I believe this steps would also applicable in 7.10. I’m not sure can this also be done in other versions of Ubuntu. But, you can try it.

As usual, pls comment if you find something’s wrong here.

Cheers

12
Oct
09

Installing Pure Data Extended on 64-bit Ubuntu

Okay, it’s 11 PM right now, i should get some sleep. But, before I go to sleep, here’s some step for you who want to install Pure Data extended or Pd-extended, to abbreviate, on a 64-bit Ubuntu (I use Hardy Heron, so I don’t know if other version would work). There’s no Pd-extended installer for 64-bit system in Pd official site, but believe me, this way would work. Just done it myself :)
Continue reading ‘Installing Pure Data Extended on 64-bit Ubuntu’

12
Oct
09

Emergency! Darurat!

Beberapa waktu yang lalu saya diajak teman untuk pameran di nusubstance 209, sebuah pameran yang menampilkan instalasi dan karya-karya seni multimedia interaktif. Nampak menarik, karena saya punya sesuatu untuk dipamerkan.

Namun, ketika saya tanya kapan tanggalnya, teman saya dengan enteng menjawab, 19 Oktober, yang sama dengan minggu depan! Hahaha… Padahal hingga tadi malam, alat buatan saya ini juga belum juga jadi.

Oke, jadi hingga at least tanggal 18, saya punya list yang harus saya kerjakan:

1. Membersihkan Ubuntu 8.04 saya, jadi bisa dipakai sistem dasar yang hanya untuk menjalankan karya saya
2. Menginstal Processing dan Pure Data extended
3. Menjalankan program yang sudah saya buat di keduanya
4. Memastikan keduanya bisa berkomunikasi via OSC
5. Menginstal webcam yang bisa berjalan di atas Processing
6. Membuat instalasi fisik

Fiuh… 6 langkah yang pastinya tidak sebentar. Okey then, mulai malam ini harus bergerak. Jadi kalau dalam beberapa waktu saya tidak aktif di dunia maya, mohon maaf ya :)

Doakan saya sukses, dan saya akan segera mengabari, sebenarnya apa sih yang saya bikin :)

Cheers

02
Oct
09

saat seniman juga coding: pendekatan lain dalam penciptaan audiovisual interaktif

Media digital belakangan ini menjadi salah satu media yang banyak digunakan seniman untuk berekspresi. Media ini menawarkan berbagai kemudahan bagi penggunanya. Selain lebih awet, format digital juga mudah untuk direkayasa dan digabungkan dengan bentuk digital lainnya. Contohnya, video klip yang menggabungkan video dengan audio, atau game yang menggabungkan animasi, audio, algoritma, dan interaktivitas. Interaktivitas ini juga dikembangkan lebih lanjut dengan menggabungkan komputer dengan sensor-sensor tertentu untuk menghasilkan sebuah bentuk baru komunikasi antara manusia dengan komputer. Maka tak heran bila media digital menjadi media baru yang banyak digunakan untuk membuat karya audiovisual interaktif.

Namun, untuk membuat sebuah karya yang sah nilai komersilnya, perlu diperhatikan aspek legalitas dari proses pembuatan karya tersebut, seperti legalitas tool yang digunakan, baik itu hardware maupun software, dan juga ada tidaknya unsur dari karya orang lain. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memberikan contoh pendekatan lain dalam membuat sebuah karya kreatif di bidang audiovisual interaktif.

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membaca buku yang membahas secara mendalam tentang VJ (Visual Jockey) sebagai sebuah kultur audiovisual. Buku ini berisi wawancara dengan beberapa VJ terkemuka di seluruh dunia dan juga tinjauan historis dan teknikal mengenai profesi VJ itu sendiri. VJ di sini bukanlah VJ yang menjadi pembawa acara musik di TV, melainkan seorang yang menampilkan visualisasi sebagai pengiring musik, baik yang diputar di klub maupun yang dimainkan langsung dalam format band.

Dalam bagian wawancara, ada sebuah pertanyaan yang selalu ditanyakan berulang kali kepada hampir semua VJ, yakni bagaimana mereka berurusan dengan copyright, atau hak cipta dalam setiap visualisasi yang mereka tampilkan, baik itu gambar maupun potongan film. Jawaban mereka berbeda-beda, namun beberapa memberikan jawaban yang cukup unik: mereka tidak peduli karena mereka justru yakin bahwa yang mereka tampilkan adalah murni karya mereka sendiri, murni sesuatu yang mereka program sendiri.

Para VJ yang melakukan programming sendiri ini, bahkan lebih lanjut menunjukkan bahwa dengan metode ini, mereka bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka, yakni sebuah karya yang menunujukkan interaktivitas antara audio dan visual. Membuat visual yang berinteraksi dengan frekuensi-frekuensi tertentu dari musik yang dimainkan DJ, atau bahkan sesuatu yang bisa bereaksi terhadap perilaku penonton dan membuat pertunjukan musik semakin semarak. Dari sini nampak bahwa dengan melakukan programming, para VJ ini bisa mewujudkan khayalan mereka tentang bentuk interaksi manusia dengan media komputer.

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

Saat menghubungkan antara penciptaan dengan software melalui media komputer, aspek legalitas software yang digunakan, akan menjadi sesuatu yang vital. Tentunya akan nampak konyol saat menciptakan sesuatu yang murni buatan diri sendiri namun pembuatannya menggunakan software bajakan. Ada pelanggaran hak cipta juga di situ. Dengan melakukan programming sendiri, baik dengan menggunakan bahasa high level seperti C++, Java, atau Visual Basic, ataupun dengan programming environment open source yang sengaja dibuat untuk karya seni semacam Processing, Pure Data, Design By Numbers, dan Gridflow, tentu saja aspek penggunaan software bajakan sebagai tool kreatif juga bisa dihindari.

Secara filosofis anggaplah bahasa pemrograman ini sebagai kuas dan cat, dan kanvasnya adalah komputer. Komputer ini akan diberikan kode-kode untuk membuatnya bekerja menuruti imajinasi si seniman. Hasilnya sebuah karya seni di ranah digital yang bebas untuk diaplikasikan, mulai dari untuk media iklan, website, game, dan sebagainya. Dengan metode ini, hak cipta juga dapat dihargai dan orisinalitas karya juga menjadi sesuatu yang bisa dijamin, tentu saja selama ide karya itu tidak memplagiat karya orang lain.

Maka tidak heran, kalau hari ini, seniman juga bisa coding.




 

May 2012
M T W T F S S
« Oct    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 16,235 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan

  • Si WHUFC News ini dari dulu ngeRT rumor transfer West Ham kaya yang rame banget, pdhl yg beneran ditransfer dikit. Bule kampung. 3 hours ago
  • @taraoioi @gloowie itu Nick Zinner ngeDJ, masih minat? curiga apeu, haha 5 hours ago
  • "where do you live?" "attack" "eh?" "oh, maksudnya serang" 7 hours ago

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.