Archive Page 2

01
Oct
09

Akhirnya CCNA Juga

Well, 2 hari yang lalu saya akhirnya bisa juga lulus ujian jadi CCNA, alias Cisco Certified Network Associate. Cukup bikin lega, karena at least saya bisa mendapatkan bukti pengakuan kemampuan di bidang network, dan jadinya nggak malu lagi kalo ditanya customer “Udah CCNA Mas?”, hehe…

CCNA sendiri adalah tingkatan terendah dari sertifikasi profesional yang diberikan oleh Cisco, sebuah vendor network device pemimpin pasar. Meski demikian, CCNA ini bisa dianggap sebagai dasar kualifikasi kemampuan dasar-dasar teori jaringan seseorang. Biarpun di depannya ada embel-embel “Cisco” bukan berarti murni untuk kualifikasi ini seseorang harus jago Cisco saja. Malahan justru yang paling banyak diujikan dalam ujian ini adalah dasar jaringan itu sendiri, seperti OSI 7 layer, IP addressing, dasar-dasar routing dan switching, roting protocol, dan beberapa topik terkini seperti wireless dan security. Topik-topik dasar seperti ini sangatlah vital bagi seseorang yang berkecimpung di dunia jaringan seperti saya atau bagi yang ingin mengambil sertifikasi lanjutan seperti CCNP, CCDA, CCDP, bahkan CCIE. Ibarat seorang anak, CCNA ini adalah Sekolah Dasar, jadi bayangkan, bagaimana mungkin orang bisa memecahkan persamaan kuadrat kalo dasar matematika seperti kali bagi tambah kurang tidak dikuasai.

Jadi, bagi yang mau mengambil CCNA juga, maka saya sarankan untuk mempelajari dasar-dasar jaringan, terutama bagaimana aliran data di OSI 7 layer, karena ini terbukti menjadi dasar yang amat vital dalam mempelajari kerja jaringan. Percayalah, sertifikasi seperti ini akan menjadi modal yang baik untuk memulai karir di bidang networking. Kalau bisa diambil ketika masih kuliah bagus, kalau diambil abis lulus juga tidak apa, tapi lebih cepat lebih baik :) Mudah? Sangat! Bayangkan, teman saya yang sarjana hukum, bisa punya sertifikasi CCNA ini. Tunggu apa lagi? :)

01
Oct
09

Musisi dan Engineer Seharusnya Bisa Menjadi 2 Profesi yang Saling Melengkapi

Beberapa waktu yang lalu saya menonton video wawancara dengan deadmau5, seorang DJ nyentrik dari Kanada yang prestasinya cukup gemilang. Dalam wawancara itu dia sempat berkata bagaimana dia bekerja sama dengan pembuat monome, sebuah kontroler yang menggunakan protokol OSC, untuk membuat monome mengendalikan Ableton Live. Pada proses itu dia berkata kalau dia juga melakukan programming dengan Python untuk mencapai tujuannya. Wow. Saya tidak menyangka kalau ternyata menjadi DJ jaman sekarang pun, musti punya pengetahuan soal progaramming seperti ini.

Kasus lain ialah Trent Reznor, si mastermind Nine Inch Nails. Saya membaca di salah satu tweet-nya, kalau dia sedang membuat aplikasi NIN untuk iPhone. Wow. Apapula ini? Meskipun saya sering mendengar dia memang hobi mengutak-atik hardware dan software, saya tidak menyangka kalau dia sampai benar-benar membuat aplikasi.

Dari dua kejadian itu saya pun mengambil kesimpulan, kalau di era di mana teknologi alat musik sudah maju sedemikian pesat, nampaknya pengetahuan sebagai engineer khususnya di bidang elektro atau komputer nampaknya memang cukup vital. Terlebih ketika banyak software maupun hardware musik yang mendorong eksplorasitidak hanya dari segi teknis pemakaian tapi juga teknis pembuatan untuk mendorong adanya bentuk interaksi baru dalam menghasilkan musik.

Contoh nyata dari itu semua adalah banyaknya software dan hardware musik yang bersifat open source. Perkembangannya pun begitu pesat. Monome, x0b0x, MIDIBox, adalah sebagian dari open source hardware yang bisa digunakan untuk bermusik. Pengembangan dari masing-masing ini pun begitu banyak hingga menghasilkan berbagai macam alat dengan berbagai fungsi. Di software juga demikian. Pure Data dan Processing adalah 2 contoh kecil software open source yang begitu hebat ketika digunakan untuk bermusik. Penggunaan alat-alat ini memang tidak murni mengharuskan orang untuk bisa programming, tapi ketika kita akan membuat semua perangkat bekerja menurut keinginan kita, maka keterampilan dalam memaksa komputer, atau hardware pada umumnya, untuk bekerja sesuai desain dan keinginan kita, menjadi sesuatu yang cukup esensial.

Mungkin pembicaraan ini lebih banyak ke arah konsep teknikal. Karena betapapun hebatnya sebuah alat, pada akhirnya ia akan nampak berbeda jika dipakai oleh orang yang tepat. Alat musik akan lebih terasa hebatnya kalau berada di tangan seorang yang kreatif dan berjiwa seni tinggi. Nah, ini juga yang menurut saya musisi dan engineer mustinya saling melengkapi. Jiwa kreatif akan membuat seorang engineer lebih bisa memecahkan masalah sementara dengan skill seorang engineer, seorang musisi bisa merealisasikan khayalan seninya. Menarik.

Kalau sudah begini, ingin rasanya mengambil waktu luang untuk mengutak-atik komputer, melakukan sedikit coding sana-sini untuk membuat musik :)

06
Jun
09

Manohara? Tidak Tidak Tidak

Oke, postingan ini mungkin akan terasa sedikit basi, tapi apapun itu, saya cuma ingin sekedar membagi pemikiran saya ke dunia maya, hehehe…

Seminggu ini, kasus Manohara benar-benar diekspos secara berlebihan oleh media massa lokal. Mulai dari koran, TV, tabloid, situs berita, semua memuat Manohara, entah di sampul, berita utama, atau di bagian lain selain bagian olahraga dan bisnis. Semua memberikan berita terbaru soal kasus yang sempat menghebohkan penduduk Indonesia ini. Jadi semakin heboh karena menyangkut penculikan, kekerasan seksual, kerajaan Malaysia (yang hubungan dengan negara ini juga sedang kurang baik) dan air mata ibu. Nggak heran kalau kasus ini jadi topik yang sangat disukai banyak orang sehingga media pun berlomba-lomba memberitakan gadis cantik ini.

Tapi terus terang saya tidak setuju kalau Manohara terus-menerus diberitakan. For instance, apa sih prestasinya dia sampai kita terus-menerus diberitakan? Kira-kira apa ya bedanya kasus dia dengan kasus ratusan anak gadis dari kampung yang diculik lantas dijadikan pelacur di negara lain? Lalu untuk apa dia dimunculkan di media massa dengan frekuensi pemberitaan yang tinggi itu? Ada nggak sih influens baik untuk yang menonton? Jangan-jangan nanti anak kecil yang nonton kalau sudah besar ingin diculik keluarga kerajaan negara lain cuma biar bisa masuk TV, hehe…

Coba kita bandingkan dengan prestasi anak muda lain yang umurnya sama dengan Manohara. Sejak beberapa tahun yang lalu, ada banyak sekali pelajar yang menjadi juara olimpiade sains, di level internasional. Salah satu cerita mungkin bisa dilihat di sini . Tapi tanpa perlu googling, bisa nggak kita menyebutkan nama pelajar hebat itu? Saya yakin banyak dari kita tidak akan bisa. Padahal, andai saja cerita-cerita sukses generasi muda ini bisa diberitakan dengan cukup sering, saya cukup yakin, banyak pelajar bisa terinspirasi untuk meningkatkan prestasinya, terutama di bidang akademis. Merasa tidak cukup pintar? Bagaimana kalau saya berikan link ini di mana diberitakan Indonesia menjuarai ASEAN Primary School Sport Olympiad. Prestasi-prestasi ini lah yang seharusnya diberitakan media massa.

Saya rasa kasihan itu wajar, tapi kalau terus-menerus kasihan terhadap 1 orang, itu namanya sudah jadi komoditas jualan. Negara ini masih negara dunia ketiga, masih berkembang, dan perkembangan itu bisa terhambat kalau generasi muda dibius cerita-cerita sedih terus-terusan. Berikanlah apresiasi terhadap mereka yang sudah mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Sekaligus berikan cerita kepahlawanan kepada anak-anak muda yang butuh asupan inspirasi. Cukup sudah berita Manohara-nya.

25
May
09

Dialog (kocak) Hari Ini

di sebuah kantor di Jakarta…

X: Ah gimana, katanya bagian IT, kok OS-nya masih XP? Vista dong…

*beberapa menit kemudian

X: mas, kok ini nggak bisa yah buka situsnya?

Y: o, “mozilla.org” itu “L”-nya 2 pak (menerangkan kalau yang benar itu mozilla.org, bukan mozila.org)

so much for a fun day

17
May
09

menikmati akhir pekan di jakarta

Hore, setelah sekian lama akhirnya bisa juga saya berakhir pekan di Jakarta. Sejenak beristirahat, benar-benar istirahat dari aktivitas di kantor. Bangun siang, dan kemudian menyampah di dunia maya. Senangnya. Biasanya ada saja hal yang membuat saya wajib datang ke Bandung, terutama buat ngeband, hehehe. Berhubung kegiatan bermusik sedang kosong, jadi ya saya manfaatkan saja liburan ini untuk leyeh-leyeh di rumah.

Well, tidak sepepnuhnya di rumah juga sih. Kemarin juga saya sempat menonton Angels and Demons bersama Anggi, Baskara, Angga dan pacar saya. Filmnya cukup menarik, meskipun tidak se-mikir DaVinci Code (for better or for worse). Tapi at least film ini cukup ironis menurut saya, terlepas dari bagaimana versi novelnya yang saya sendiri juga belum pernah baca. Lucu melihat bagaimana Paus, pemimpin umat Katolik di dunia diselamatkan oleh seorang Atheis. Ini semacam ledekan halus atau apa? Sebagai sesama umat beragama sejujurnya saya cukup miris melihat penggambaran agama di film-film Hollywood kebanyakan. Sungguh sebuah komoditas jualan. Kemudian penggambaran Illuminati yang sedemikian positif. Wow, pasti ada apa-apanya nih. Kalau yang sudah pernah nonton The Arrivals pasti tahu apa yang saya maksud, kalau belum, cepat buka http://www.wakeupproject.com dan tonton seri The Arrivals, hehe.. Yang saya senang dari film itu cuma ketika Ewan McGregor tidak jadi Paus (ups, spoiler buat yang belum nonton, rasain! hahahaha). Soalnya tidak kebayang, dia yang dulu berperan jadi pemadat di Trainspotting masa sekarang menjadi Paus, wah bisa gila :P

But anyway, jadinya dari kemaren sampai sekarang (potong waktu tidur ya) saya kembali di depan komputer, menghabiskan waktu. Melihat skor sepakbola. Melihat Inter, Barcelona dan Manchester United menjadi juara di masing-masing liga (selamat!). Membuka banyak video DJ di youtube, dan mencari artikel-artikel menarik di createdigitalmusic.com. Ya intinya, weekend yang cukup untuk memulihkan tenaga :)

Cheers everyone

16
May
09

Membandingkan Animo Penonton Bioskop di Jakarta dan Bioskop di Bandung

Kemarin saya dan pacar berniat nonton Angels and Demons. Rencananya, pacar akan menjemput begitu saya pulang kantor, dan tergantung dari jam berapa saya keluar, kit abisa nonton di Plaza Semanggi jam 17.45, atau di Setiabudi jam 18.45. Ternyata, saya baru keluar kantor jam 18.03, jadinya kita pun memilih di Setiabudi. Sampai sana, oh ternyata penuh. Oke, perjalanan pun diubah dnegan memilih Pejaten Village jam 20.30, biar pulangnya nggak terlalu jauh. Sampai sana jam 20.00, ternyata tiket pun dusah habis. Hmm, hari pertama pemutaran film ini ternyata cukup menarik animo penduduk Jakarta. Padahal di waktu bersamaan, teman saya ngesms, katanya di PVJ angels and demons kosong abis, oh nooooo, hahahaha, saya jadi pengen tinggal di Bandung lagi deh :)

Kemudian saya ingat-ingat lagi, teman saya pernah cerita kalau ketika dia mau nonton The Fast and The Furious, antriannya bisa panjang banget buat dapet yang entah jam berapa. Saya juga ingat, dulu pernah pindah-pindah bioskop sampai 3 kali cuma buat nonton Laskar Pelangi (padahal udah beberapa minggu sejak pemutaran perdana).

Kalau dibandingkan, waktu jaman kuliah di Bandung, kayanya animo buat menonton film ketika baru mulai diputar, nampaknya lebih rendah. Buktinya, kalau mau menonton film di bioskop, kayanya saya belum pernah sesusah ini deh. Ya mungkin sekali-dua kali lah, tapi itu juga tidak separah di Jakarta, yang mana seringkali setiap mau menonton film, (terutama film yang baru diputar) tiket sudah habis.

Dugaan saya terhadap fakta ini ada beberapa:
1. Orang di Jakarta cenderung lebih butuh hiburan, sehingga begitu ada film baru keluar, langsung diburu sedemikian rupa.
2. Ini juga menyiratkan kebutuhan orang Jakarta untuk selalu up to date lebih tinggi. Secara habit menurut saya, orang Bandung lebih bisa menciptakan trend ketimbang orang Jakarta yang lebih cenderung mengikuti trend.
3. Di lain pihak karena seringkali film yang masuk ke Bandung lebih telat dari di Jakarta, bisa jadi orang Bandung yang tadinya mau nonton, jadi batal gara2 sudah mendapat rekomendasi dari rekannya yang berada di Jakarta.
4. Kalau diperhatikan, bioskop selalu berada di tempat pusat keramaian seperti mall. Nah, di Jakarta sendiri, posisi mall sebagai tempat berkumpul sangatlah vital. Sebagai tempat bersosialisasi, posisi mall di Jakarta memang belum tergantikan. Beda dengan di Bandung, di mana menurut saya, orang-orangnya lebih senang buat berkumpul di tempat-tempat nongkrong biasa, entah di rumah seseorang, atau di warung siapa. Ini berakibat, animo buat ke bioskop juga sedikit lebih rendah di Bandung dibandingkan di Jakarta.

Hauh, pemikiran yang sangat subjektif. Saya terlalu menggeneralisir nampaknya. Jadi kalau saya bilang “orang Jakarta”, berarti saya merefer ke “kebanyakan orang Jakarta”, hehehe…

Maaf kalau postingan ini bisa menyinggung, tapi ini hanya pemikiran saya. Just my 2 cents :) Ada yang punya pendapat lain? Silakan berbagi :)

Cheers

15
May
09

My Laptop Based Music Production/Performance Setup

Halo semua!
Setelah saya perhatikan, nampaknya cukup banyak yang mampir kesini dan mencari informasi seputar hardware ataupun software untuk bermusik. Jadi saya pikir, mungkin akan lebih informatif kalau saya turut berbagi setup saya, mungkin saja ada bisa dijadikan referensi untuk yang berminat. So here it is:

1. Laptop: Macbook Putih Intel Core 2 Duo 2.0 GHz RAM 1 GB, Mac OS X 10.4 Tiger
2. Audio Interface: M-Audio Firewire 410
3. Midi Controller: Novation Remote SL 25 Compact
4. Headphone Monitor: AKG K77
5. Software: Ableton Live 6, Reason 4, GarageBand, Pure Data, SuperCollider, berbagai macam VST gratis, software instrumen bonus dan sample CD
6. Synth: Alesis Micron
7. Gitar: Epiphone Les Paul
8. Efek: Line 6 FM4 dan DD4, Boss DD3, Ibanez TS 808 dan WD 7.

Peralatan-peralatan tadi dihubungkan sebagai berikut:
setup

Setup itu saya gunakan sebagai berikut. Audio Interface yang terhubung ke Laptop digunakan sebagai tempat interfacing masukan audio dari instrumen lain maupun keluaran audio ke headphone monitor. Device ini terhubung melalui port firewire ke Macbook. Di Macbook, dijalankan program Ableton Live 6 sebagai sequencer, host ReWire untuk Reason maupun efek dan instrumen VST, sekaligus juga digunakan untuk Performance tool (DJ ataupun Performance elektronik lainnya). Setiap parameter si Ableton kemudian bisa dikontrol dengan MIDI controller Novation. Jumlah knob, pad, maupun tuts yang memadai dari kontroler ini, sejauh ini saya rasa cukup untuk melakukan hal-hal yang diperlukan seperit mengendalikan parameter efek/instrumen, maupun untuk memainkan instrumen itu sendiri. Synth Alesis, software Pure Data dan SuperCollider digunakan untuk menambah keragaman bunyi dan biasanya dijadikan sebagai file audio di Live.

SO there it is, setup saya untuk sementara. Soalnya, saya juga sudah membidik beberapa instrumen lain, hehehe.. Tapi untuk sekarang, saya rasa dengan setup seperti ini sudah cukup. Sekarang mari berkarya. Semoga postingan ini cukup membantu :)

14
May
09

SuperCollider 3.3 Released!

Tadi pagi iseng-iseng buka situs SuperCollider . Dari situ baru tahu ternyata April kemaren, Versi 3.3 dari bahasa pemrograman oke ini sudah keluar. Yeah, jadi tak sabar ingin mendownload sepulang dari kantor. Nampaknya rilisan terbaru ini sudah mendkung Windows dengan lebih baik, sehingga niatan awal saya untuk memberikan beberapa tutorial membuat synthesizer dengan bahasa pemrograman ini bisa saya eksekusi. Tadinya saya menunda niat ini, karena takut teman-teman yang memakai Windows tidak bisa ikut menikmati, tapi berhubung sekarang sudah bisa, jadi ya mari kita nantikan tutorial ini.

Tapi apa sih SuperCollider? Kalau mengutip dari websitenya sih,

SuperCollider is an environment and programming language for real time audio synthesis and algorithmic composition. It provides an interpreted object-oriented language which functions as a network client to a state of the art, realtime sound synthesis server. SuperCollider was written by James McCartney over a period of many years, and is now an open source (GPL) project maintained and developed by various people. It is used by musiciansscientists, and artists working with sound.

Intinya dengan menggunakan bahasa ini, pemrograman sintesis gelombang suara bisa dilakukan dengan baik. Hasilnya juga menurut saya sangat baik. Tebal. Lebih tebal dari synthesizer Alesis Micron saya.

Jadi, tunggu apalagi? Ayo unduh dan mari kita pesta frekuensi audio :)

Baca juga:
Super Collider di wiki

13
May
09

finding fixed income sucks, but the fixed income itself is good!

Hoke, mari kita rayakan. Sudah 3 bulan ini saya bekerja sebagai konsultan OSS di sebuah perusahaan IT di Jakarta. Saya tidak akan berbicara tentang bagaimana detail pekerjaan saya. Yang saya ingin ceritakan ialah bagaimana susahnya hidup di Indonesia.

Di negara ini, sebenarnya pilihan karir masa depan para pemuda usia bekerja seperti saya memang tidak terlalu banyak. Antara ingin membuka usaha sendiri atau bekerja di perusahaan milik orang lain. Yang jelas, pada akhirnya kita akan menjadi pencari nafkah bagi keluarga, dan mau tidak mau hal tersebut harus dimulai dari sekarang. Masalahnya, pilihan jalur nyeleneh seperti menjadi musisi, pemain sepak bola, atau sutradara sebenarnya juga tidak bisa dibilang aman untuk jangka panjang. Karena negara ini memang tidak pernah menghargai profesi informal semacam itu. Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut maka saya pun memutuskan untuk bekerja di perusahaan orang sebagai jalan teraman dalam mencari pendapatan.Mengapa? Karena pada dasarnya kita cukup datang ke kantor, mengerjakan pekerjaan dan kemudian digaji. Simpel. Terlebih karena perusaahaan tempat saya bekerja bisa dibilang cukup mapan, sehingga apa yang akan dilakukan sebenarnya sudah punya roadmap yang jelas. Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian mudah.

Ternyata bekerja di Jakarta itu super berat. Ada saja yang membuat saya mengeluh ini itu. Dari mulai merenungi jadwal hidup yang super statis (berangkat naik busway jam 7, sampai kantor terjebak di cubicle, pulang naik busway jam 6, sampai rumah istirahat, besok diulang lagi), sampai ke memikirkan beberapa aspek teknis pekerjaan yang saya tidak suka, maklum masih idealis dan berpikiran sempit. Kondisi lalu liuntas Jakarta tidak dihitung ya, karena untuk soal itu saya pasrah, memang fitrahnya sudah amburadul.

Tapi setelah saya pikir-pikir, kenapa juga saya musti mengeluh. Dibilang membosankan ya pasti, tapi memang begitu namanya cari duit. Susah, berkeringat dan mengobrak-abrik emosi! Jadi dengan mulai membuka pikiran tentang aspek teknis pekerjaan, berangkat ke kantor dengan santai, saya pun perlahan menikmati pekerjaan. Dan ketika saya mengecek saldo tabungan dari gaji yang jumlahnya ternyata cukup untuk membeli barang yang saya inginkan, saya pun bisa berujar “it’s good. fixed income is good!”

30
Nov
08

Pentingnya Memperjelas Kebutuhan

Kalau ada satu hal yang saya pelajari dari mengerjakan Tugas Akhir saya, maka tak lain hal itu adalah pentingnya memperjelas apa yang dibutuhkan dari suatu sistem pada saat perancangan sistem tersebut. Dan percaya atau tidak, ternyata hal itu sangat membantu dalam kehidupan berkomputer saya sehari-hari.

Saya ambil contoh ketika saat ini space hardisk di PC dan Macbook saya mulai terasa sempit. Di PC, setiap saya ingin menginstalasi game baru, selalu saja ada yang harus saya hapus. Sementara Macbook saya terasa mulai sedikit melambat (tapi ini belum saya buktikan melalui pengukuran yang presisi, hanya perasaan saja). Kalau begitu berarti tidak ada jalan lain, operasi pembersihan hardisk harus segera dimulai. Namun pertanyaannya, apa yang harus dibersihkan?

Untuk itu saya membuat daftar, kegiatan apa saja yang biasa saya lakukan baik di PC maupun Macbook. Sehingga segala sesuatu yang berada di luar daftar itu bisa dihapus dengan aman. Dan inilah daftar itu:

- Ber-Internet (browsing, chatting, download melalui torrent)
- Memainkan file multimedia
- Programming (Java, C, C++)
- Membuat musik
- Game (Spore, FM 2009, PES 2009)
- Office
- Mengolah gambar

Dari situ kemudian saya memilah, mana saja yang bisa dilakukan di PC, mana yang bisa di Macbook, mana yang bisa di keduanya. Hei, kalau ada 2 tempat untuk bekerja, berarti mustinya tool yang dibutuhkan bisa disebar di 2 tempat dan tidak dibiarkan menumpuk di 1 tempat. Hasilnya, mengolah gambar, office dan game akan saya tetap fokuskan di PC, sementara untuk membuat musik saya fokuskan di Macbook saja. Ini karena selama pengalaman saya, membuat musik di Mac jauh lebih nyaman dibandingkan di PC Windows saya, dan memainkan game jauh lebih menyenangkan di PC. Office 2008 di Mac nampaknya bisa saya hilangkan untuk lebih menghemat ruang hardisk dan sebagai gantinya saya bisa menggunakan Neo Office yang lebih hemat ruang, mengingat pada akhirnya mungkin Macbook tidak akan digunakan untuk melakukan pembuatan dokumen yang rumit.

Beres semua, sekarang tinggal eksekusi. :)

Oh ya, ada 1 hal lagi yang bisa didapatkan dari memiliki list kebutuhan seperti ini. Ketika kita ingin menginstalasi OS baru, kita cukup melihat apakah OS yang diinginkan bisa memenuhi kebutuhan kita. Sebagai contoh, saya melihat kegiatan membuat dokumen, berinternet, programming serta membuat dan mendengarkan musik sebagai sebuah hal yang wajib bisa saya lakukan di sebuah OS. Maka dari itu ketika saya memutuskan untuk mencoba hidup dengan Ubuntu, saya tidak merasa kehilangan sesuatu, karena semua kebutuhan saya sudah ada di situ. Pun demikian ketika saya tiba-tiba penasaran ingin mencoba FreeBSD (yang hingga detik ini pun belum saya lakukan, baru sebatas ingin tahu) saya bisa menilai apakah sistem ini layak untuk dicoba atau tidak.

Akhir kata tentu saja, pemilihan sistem juga bergantung pada hardware apa yang akan digunakan. Namun, dengan memiliki spesifikasi kebutuhan yang jelas, kita akan lebih mudah memilih dan merancang sebuah sistem.




 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 4,295 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan