indonesia production note #2: the development

To continue my last post, now I’ll tell you how I developed the ideas and theme that I already had in mind for my film. Now, in my opinion, this is the hardest part, because on one side if I didn’t manage to develop the idea and how to convey it to the audience, then I’ll be screwed, because this film will just be a deep fried bullshit. But on the other hand, this is also a fun part because I get to study and really absorb my influences, learn how the great directors narrated their idea through the lenses.

I quickly listed all the directors that I really loved, and soon I was watching some of their works. I went to the library and grab a copy of Alejandro Jodorowsky’s “El Topo” and watched it there, while taking notes of events and technical stuff that occured on that movie. Still hungry for more influence, I bought Tarsim Singh’s “The Cell” and David Lynch’s “Mulholland Drive”, watched them and analyzed them slowly. I didn’t pick these movies by accident, because I knew that these movies have the elements that I want in my film, weird visual, weird storyline and non-linear storytelling. The only reason why I grabbed them is because I wanted to learn how these elements are applied correctly in films.

Around that time, I was also pretty much influenced by the minimalist drone metal work of musician such as Sunn O))), Earth and Boris. I really love how the minimalistic elements in their music works, and I’ve been a fan of them for several years now. Subsequently, I also learned that experimental films are like music, they have motif and variations, motion in screens also have that degree of rhythm. Now if we speak of these slow, minimalistic drone music, then the motif and variations becomes something really highly valued. The music is so slow and repetitive that a single small variation can give a lot effects. I thought that this would be a nice element of the film to have.

So to put everything together, here’s what I did. I wrote all the things that I wanted to say, and then I roughly mapped those things into different scenes, so that every scenes will have different meanings. I already had one thing on my mind that this film will be filled with different weird and symbolic scenes, so I’ll try to follow that rule while making the rough storyboard. While making those scenes on my head, I keep on referencing the note gathered from watching the aforementioned movies. To create the sequences tempo of those scenes, I put the drone-metal influence on the table, making series of movement in my head.

The exhausting process of development came to an end when I finally set the 9 pictures I will have on my storyboard.


Indonesia Production Note #1: The Theme

So after I proudly finished my first ever film, I figured that this would be the perfect time to write about the production of this film, as a reflection for me and as a story for you dear readers. I’ll write these production notes in a sequence of articles, so bare with me as I start the first installment: the theme of the film.

One thing that I’ve learned from all the great movies that I’ve watched and all the artwork that I’ve encountered, is how much they are all influenced by social issue. As for me, I consider myself as a nationalist and I’ve always want to create an artwork that is socially conscious on one hand as well as political on the other hand. Well I never had that chance when I was in a band, the only closest thing with that was me writing some absurd lyric back when I was in high school.

With all that in mind, I think this would be the perfect timing to unleash my social-political view. A first time experience is always the purest thing upon creation of things. It’s a time where there’s a unique mix of curiosity, eagerness and fear. This is also a time to practice what I’ve learned from all the movies I’ve seen, and putting everything on the table.

So again, I’ve decided that this movie will be filled with my view of the current social-political condition of Indonesia. Specifically, I will highlight the conflict between people, the power of electronic media to the rise and fall of Indonesia. I have to address these several issue, because I’ve been so much bothered by these. When I formulated this theme, basically the headline of the Indonesia’s news is conflicts between these groups of people with no action whatsoever from the government. I was (and still) do think that the country has been diverted from the truth by the media, and as a citizen, we are forced to follow these view produced by the higher power (which is not God). Media never provided or suggested a solution to these conflicts, they just amplified it for everyday consumption of people. As a result, seeds of conflict inside the society are planted slowly and it’s just a matter of time before a bigger and bigger conflicts are to explode.

This is what bother me and I will not stay still. I will tell this story.



Film ini adalah pandangan saya terhadap konflik di negara tercinta. Konflik antar elemen masyarakat, bagaimana media elektronik mengarahkan opini publik dan apa yang mungkin terjadi kalau ini terus berlangsung. Film ini adalah bentuk kecintaan saya terhadap tanah air sekaligus bentuk paranoia saya seandainya negara saya ini runtuh. Film ini tentang Indonesia.

Sebagai karya film/video art pertama saya, tentu “Indonesia” menjadi sesuatu yang bersejarah. Ini pertama kalinya saya menjadi sutradara, ini pertama kalinya saya menjadi aktor dan ini pertama kalinya cita-cita saya membuat soundtrack untuk film tercapai. Semua menjadi tambah istimewa karena saya berekspiremen dengan menggunakan 3 layar untuk memproyeksikan film ini. Nampak menarik, karena dengan 3 layar ini saya bisa berimprovisasi dengan semua cuplikan video yang saya rekam. Musiknya juga merupakan musik yang saya dengar secara intensif selama beberapa bulan belakangan, drone metal. Pengaruh dari Sunn O))) dan Earth benar-benar saya tumpahkan di sini, dan tentu tidak lupa, mistisme gamelan sebagai diferensiasi dari musik sejenis.

Hasilnya, bisa teman-teman nikmati sendiri di sini. Saran saya, silahkan interpretasikan sendiri apa yang teman-teman lihat, sebagaimana saya berimprovisasi dalam membuat, teman-teman juga bebas berimprovisasi sebagai pemirsa. Yang jelas, film ini penuh dengan simbol-simbol sehingga mungkin perlu beberapa kali melihat. Oh ya, kencangkan volume speaker komputer Anda, karena film ini lebih baik dinikmati dalam volume maksimum.

Selamat menyaksikan.


Indonesia from Adityo Pratomo on Vimeo.


gig review: Rolling Stone Release Party, 10 April 2010

Rolling Stone Release Party, sebuah acara rutin yang digelar oleh majalah Rolling Stone Indonesia (RSI). Ini pertama kali saya datang ke acara ini. Komunal dan Seringai, 2 band favorit saya akan tampil malam ini, menjadi magnet yang cukup kuat bagi saya untuk pulang cepat tepat waktu dan bergegas menuju venue di Ampera Raya 16, kantor Rolling Stone Indonesia. Selain mereka berdua, masih ada The Authentics, band ska yang cukup sering manggung belakangan ini (dan saya juga cukup penasaran ingin melihat aksi mereka) serta Project The Fly (saya nggak peduli ini siapa).

Saya tiba pukul 8 lebih sedikit, acara belum dimulai, saya langsung membeli tiket, dan oh, ada bonus rupanya, 50 merchandise Ouval Research bagi 50 pengunjung pertama, yang mana saya rupanya adalah pengungjung ke-50. Jadi, mohon maaf bagi yang mengantri di belakang saya. Sempat melihat Ricky Siahaan, gitaris Seringai yang juga penulis di RSI, agak terbersit di otak saya ingin menyapanya dan berkata “Mas, saya mau dong nulis buat Rolling stone, tapi gimana caranya ya?” dan entah mengapa pertanyaan itu tidak jadi saya lontarkan.

Continue reading ‘gig review: Rolling Stone Release Party, 10 April 2010’


These R Fake’s My Boyfriend Doesn’t Love Me is on top of ardan’s indie 7 chart

Good news! Thank you so much for everyone who made this possible. Hope this will further affect the band in a positive way e.g: more gig! hahaha… For those of you who hasn’t get a chance to hear this song, well you can take a listen at These R Fake’s myspace page, which is www.myspace.com/theserfake. And for those of you who want to hear this song played live (believe me it’s one of those mandatory song on our setlist) then please, don’t hesitate to book us for a gig 🙂


Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress

Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress

Mari saya mulai review ini dengan membandingkan Tika and The Dissidents dengan Lamb of God. Bulan Maret lalu, Lamb of God, salah satu band metal yang saya sukai datang ke Jakarta dan tentunya mengadakan konser di sini. Hasilnya, saya kecewa karena mereka bermain tanpa perasaan. Beberapa minggu kemudian saya membeli CD album terakhir mereka, Wrath. Hasilnya, saya kecewa dua kali.

Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan menyaksikan Tika and The Dissidents dalam format akustik di sebuah daerah di Senayan. Hasilnya, saya tercengang, bagus banget! Dan akhirnya saya pun membeli album terbaru mereka, The Headless Songstress, dan bisa ditebak saya tercengang kembali.

The Headless Songstress adalah sebuah album yang dibuat dengan hati. Setiap lagunya dikomposisi secara hati-hati, perlahan-lahan, setiap detail diperhatikan betul, setiap sound yang muncul ditempatkan di tempat yang pas. Saya selalu kagum dengan album yang menampilkan instrumentasi yang tidak standar (baca: gitar, bass drum), namun ada kalanya instrumentasi tersebut ditempatkan hanya untuk menambah nilai jual. Berbeda di sini, setiap nada yang muncul entah itu dari harmonika, akordion, horn section atau lainnya memang diberikan peran signifikan masing-masing. Bahkan paduan suara pun dijadikan instrumen tersendiri.

Continue reading ‘Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress’


Review Album: Pee Wee Gaskins – The Sophomore

Sebagai bagian dari penutup tahun 2009 yang indah ini. apres! ITB membuat daftar album terbaik indonesia tahun 2009, kebetulan saya mendapat bagian untuk mereview album dari Pee Wee Gaskins dan Tika. So, inilah review untuk album Pee Wee Gaskins. (note: link ke list 10 album terbaiknya akan saya cantumkan setelah artikelnya beres, anggap saja ini pemanasan, hehe…)


Review Album:
Pee Wee Gaskins – Sophomore

Pada saat saya menulis review ini, seharusnya komparasi antara Pee Wee Gaskins (PWG) dengan band-band pop-punk seperti The Get Up Kids, New Found Glory, atau bahkan Rocket Rockers seharusnya sudah tidak lagi dikemukakan. Sebagai sebuah band tahun ini mereka sudah mencapai level selanjutnya. Sejujurnya saya agak-agak terlewat mengapa mereka bisa sebesar sekarang. Saya tidak tahu apakah fenomena munculnya sekumpulan anak-anak ABG labil yang berdandan dengan topi merah (tidak dibalik) bertuliskan “Dork”, berkaos cerah, bercelana jins dan bersepatu cerah juga yan menamakan diri mereka (atau dinamakan?) Party Dorks itu murni disebabkan oleh kekuatan musik dari PWG atau apakah ini keberhasilan promosi dari PWG? Belum lagi ketika mengetahui bahwa sudah ada yang namanya Anti Pee Wee Gaskins, aih, itu semua tanda kalau band ini memang sudah besar.

Maka dari itu, meskipun saya amat sangat yakin kalau album ini bukan dibuat untuk pria seumuran saya, saya memaksa diri saya untuk membeli albumnya dan kemudian mereviewnya. Saya akan terjun langsung ke jualan utama mereka: musiknya. Saya tidak akan mempertimbangkan bagaimana perilaku personil band ini di atas dan di luar panggung, saya tidak akan menyinggung performa live mereka, saya hanya akan menilai album Sophomore mereka ini. Anggap saya sedang mengulas nasi goreng buatan Angie, si wanita tuna susila. Saya tahu kelakuan si Angie ini minus, tapi kalau sedang menilai nasi gorengnya, mustinya ya hanya nasi gorengnya yang jadi bahan penilaian saya.

Continue reading ‘Review Album: Pee Wee Gaskins – The Sophomore’

April 2019
« Oct    

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 25,934 mari berhitung!