05
May
08

Matinya Kaset

Ada yang gemar mengoleksi kaset? Hmm..buat saya, benda ini begitu nostalgik. Dari kecil juga ibu saya sudah sering membelikan kaset lagu anak-anak, mulai dari semut-semut kecil, Batman, sampai dongeng Sanggar Cerita. Beranjak dewasa, kaset pun makin vital kedudukannya buat saya. Berbagai macam jenis musik yang saya kenal, semua muncul gara-gara sering beli kaset. Memang berbeda dengan katakanlah mendownload mp3 dari internet yang secara disik tidak ada uang yang dikeluarkan, kecuali untuk membayar tagihan internet. Ketika saya sampai rela menyisihkan uang 20 ribu untuk membeli sebuah kaset, berarti saya sudah melalui berbagai studi kelayakan album yang akan saya beli, mulai dari tahu siapa artis itu, bagaimana jenisnya, atau kalau beruntung ya berarti saya sudah tau 1-2 lagu dari album itu. Begitu beli kaset, kaset itu akan saya dengarkan terus dan kalau lagi iseng dan mampu, maka lagu yang enak di album itu saya ulik. Kalau album itu enak, berarti saya tidak ragu untuk mengeluarkan uang demi membeli album lain dengan musik sejenis atau dari artis yang sama. Wah menyenangkan!

Tapi karena siklus industri, sebagaimana dulu piringan hitam atau pita 8 inci dibunuh, kaset pun akan bernasib sama. Kemajuan musik digital dan teknologi pada umumnya, membuat media analog seperti kaset mulai perlahan-lahan menghilang. Memang, kehangatan suara pita magnetik kaset, tidak mudah diawetkan. umur kaset yang bagus memang tidak bertahan lama. Bahkan belakangan ini, fenomena yang saya temui, kaset-kaset keluaran baru cenderung lebih mudah rusak pitanya dibandingkan kaset-kaset lama. Bandingkan dengan CD yang digital. Kualitas suara yang “lebar” dan data yang lebih awet, blum lagi bila di-rip dan diubah ke dalam bentuk mp3/wma/ogg, wah abadilah dia. Makanya tak heran kalau pada akhirnya industri pun beralih ke CD.

Pernah ke toko musik belakangan? Pernah memperhatikan bagaimana rasio CD:kaset yang dijual? Bandingkan, sekarang toko musik makin dipenuhi CD dan kaset makin tersudut. Masalahnya, CD masih mahal, kurang cocok buat mahasiswa seperti saya,hehe… Jadi ngga heran, kalau saya pun cuma mampu beli CD band-band lokal, yang notabene harganya sama kaya 2 kaset (dulu juga kalau sekali beli kaset langsung 2). Bahkan konon katanya, pabrik kaset di Indonesia sekarang cuma produksi kaset dalam rangka menghabiskan stok pita. Di luar negri pun kaset sudah punah. Jadi ya tinggal tunggu waktu sebelum akhirnya kaset menghilang dari toko-toko musik di dekat kita. Tak ada yang bisa kita lakukan, ya memang begitu siklus industri, ada yang datang ada yang pergi. Yang bisa kita lakukan cuma silakan menghabiskan sisa umur kaset yang tersisa. Kumpulkan semua kaset yang bisa dikoleksi. Saya? Hm..nampaknya saya harus melengkapi koleksi kaset Metallica dan beberapa album metal legendaris lainnya. Let’s go.


0 Responses to “Matinya Kaset”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


May 2008
M T W T F S S
« Apr   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 24,615 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan


%d bloggers like this: