01
Oct
09

Musisi dan Engineer Seharusnya Bisa Menjadi 2 Profesi yang Saling Melengkapi

Beberapa waktu yang lalu saya menonton video wawancara dengan deadmau5, seorang DJ nyentrik dari Kanada yang prestasinya cukup gemilang. Dalam wawancara itu dia sempat berkata bagaimana dia bekerja sama dengan pembuat monome, sebuah kontroler yang menggunakan protokol OSC, untuk membuat monome mengendalikan Ableton Live. Pada proses itu dia berkata kalau dia juga melakukan programming dengan Python untuk mencapai tujuannya. Wow. Saya tidak menyangka kalau ternyata menjadi DJ jaman sekarang pun, musti punya pengetahuan soal progaramming seperti ini.

Kasus lain ialah Trent Reznor, si mastermind Nine Inch Nails. Saya membaca di salah satu tweet-nya, kalau dia sedang membuat aplikasi NIN untuk iPhone. Wow. Apapula ini? Meskipun saya sering mendengar dia memang hobi mengutak-atik hardware dan software, saya tidak menyangka kalau dia sampai benar-benar membuat aplikasi.

Dari dua kejadian itu saya pun mengambil kesimpulan, kalau di era di mana teknologi alat musik sudah maju sedemikian pesat, nampaknya pengetahuan sebagai engineer khususnya di bidang elektro atau komputer nampaknya memang cukup vital. Terlebih ketika banyak software maupun hardware musik yang mendorong eksplorasitidak hanya dari segi teknis pemakaian tapi juga teknis pembuatan untuk mendorong adanya bentuk interaksi baru dalam menghasilkan musik.

Contoh nyata dari itu semua adalah banyaknya software dan hardware musik yang bersifat open source. Perkembangannya pun begitu pesat. Monome, x0b0x, MIDIBox, adalah sebagian dari open source hardware yang bisa digunakan untuk bermusik. Pengembangan dari masing-masing ini pun begitu banyak hingga menghasilkan berbagai macam alat dengan berbagai fungsi. Di software juga demikian. Pure Data dan Processing adalah 2 contoh kecil software open source yang begitu hebat ketika digunakan untuk bermusik. Penggunaan alat-alat ini memang tidak murni mengharuskan orang untuk bisa programming, tapi ketika kita akan membuat semua perangkat bekerja menurut keinginan kita, maka keterampilan dalam memaksa komputer, atau hardware pada umumnya, untuk bekerja sesuai desain dan keinginan kita, menjadi sesuatu yang cukup esensial.

Mungkin pembicaraan ini lebih banyak ke arah konsep teknikal. Karena betapapun hebatnya sebuah alat, pada akhirnya ia akan nampak berbeda jika dipakai oleh orang yang tepat. Alat musik akan lebih terasa hebatnya kalau berada di tangan seorang yang kreatif dan berjiwa seni tinggi. Nah, ini juga yang menurut saya musisi dan engineer mustinya saling melengkapi. Jiwa kreatif akan membuat seorang engineer lebih bisa memecahkan masalah sementara dengan skill seorang engineer, seorang musisi bisa merealisasikan khayalan seninya. Menarik.

Kalau sudah begini, ingin rasanya mengambil waktu luang untuk mengutak-atik komputer, melakukan sedikit coding sana-sini untuk membuat musik🙂


4 Responses to “Musisi dan Engineer Seharusnya Bisa Menjadi 2 Profesi yang Saling Melengkapi”


  1. 1 ibn
    October 1, 2009 at 3:08 pm

    saya setuju dit🙂

  2. 2 si didit
    October 1, 2009 at 5:53 pm

    hehe,,,terimakasih Ibnu🙂 ayo kita maju bersama😀

  3. 3 okY
    October 2, 2009 at 7:53 am

    awak penikmat aja deh, udah nyoba tapi gak bakat hehehe, btw trent reznor jangan2 ccna jg?😀

  4. 4 si didit
    October 2, 2009 at 11:07 am

    yakin ga bakat ki? hihi… trent ccna, certified crazy new artist


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


October 2009
M T W T F S S
« Jun   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 24,615 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan


%d bloggers like this: