02
Oct
09

saat seniman juga coding: pendekatan lain dalam penciptaan audiovisual interaktif

Media digital belakangan ini menjadi salah satu media yang banyak digunakan seniman untuk berekspresi. Media ini menawarkan berbagai kemudahan bagi penggunanya. Selain lebih awet, format digital juga mudah untuk direkayasa dan digabungkan dengan bentuk digital lainnya. Contohnya, video klip yang menggabungkan video dengan audio, atau game yang menggabungkan animasi, audio, algoritma, dan interaktivitas. Interaktivitas ini juga dikembangkan lebih lanjut dengan menggabungkan komputer dengan sensor-sensor tertentu untuk menghasilkan sebuah bentuk baru komunikasi antara manusia dengan komputer. Maka tak heran bila media digital menjadi media baru yang banyak digunakan untuk membuat karya audiovisual interaktif.

Namun, untuk membuat sebuah karya yang sah nilai komersilnya, perlu diperhatikan aspek legalitas dari proses pembuatan karya tersebut, seperti legalitas tool yang digunakan, baik itu hardware maupun software, dan juga ada tidaknya unsur dari karya orang lain. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memberikan contoh pendekatan lain dalam membuat sebuah karya kreatif di bidang audiovisual interaktif.

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membaca buku yang membahas secara mendalam tentang VJ (Visual Jockey) sebagai sebuah kultur audiovisual. Buku ini berisi wawancara dengan beberapa VJ terkemuka di seluruh dunia dan juga tinjauan historis dan teknikal mengenai profesi VJ itu sendiri. VJ di sini bukanlah VJ yang menjadi pembawa acara musik di TV, melainkan seorang yang menampilkan visualisasi sebagai pengiring musik, baik yang diputar di klub maupun yang dimainkan langsung dalam format band.

Dalam bagian wawancara, ada sebuah pertanyaan yang selalu ditanyakan berulang kali kepada hampir semua VJ, yakni bagaimana mereka berurusan dengan copyright, atau hak cipta dalam setiap visualisasi yang mereka tampilkan, baik itu gambar maupun potongan film. Jawaban mereka berbeda-beda, namun beberapa memberikan jawaban yang cukup unik: mereka tidak peduli karena mereka justru yakin bahwa yang mereka tampilkan adalah murni karya mereka sendiri, murni sesuatu yang mereka program sendiri.

Para VJ yang melakukan programming sendiri ini, bahkan lebih lanjut menunjukkan bahwa dengan metode ini, mereka bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka, yakni sebuah karya yang menunujukkan interaktivitas antara audio dan visual. Membuat visual yang berinteraksi dengan frekuensi-frekuensi tertentu dari musik yang dimainkan DJ, atau bahkan sesuatu yang bisa bereaksi terhadap perilaku penonton dan membuat pertunjukan musik semakin semarak. Dari sini nampak bahwa dengan melakukan programming, para VJ ini bisa mewujudkan khayalan mereka tentang bentuk interaksi manusia dengan media komputer.

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

Saat menghubungkan antara penciptaan dengan software melalui media komputer, aspek legalitas software yang digunakan, akan menjadi sesuatu yang vital. Tentunya akan nampak konyol saat menciptakan sesuatu yang murni buatan diri sendiri namun pembuatannya menggunakan software bajakan. Ada pelanggaran hak cipta juga di situ. Dengan melakukan programming sendiri, baik dengan menggunakan bahasa high level seperti C++, Java, atau Visual Basic, ataupun dengan programming environment open source yang sengaja dibuat untuk karya seni semacam Processing, Pure Data, Design By Numbers, dan Gridflow, tentu saja aspek penggunaan software bajakan sebagai tool kreatif juga bisa dihindari.

Secara filosofis anggaplah bahasa pemrograman ini sebagai kuas dan cat, dan kanvasnya adalah komputer. Komputer ini akan diberikan kode-kode untuk membuatnya bekerja menuruti imajinasi si seniman. Hasilnya sebuah karya seni di ranah digital yang bebas untuk diaplikasikan, mulai dari untuk media iklan, website, game, dan sebagainya. Dengan metode ini, hak cipta juga dapat dihargai dan orisinalitas karya juga menjadi sesuatu yang bisa dijamin, tentu saja selama ide karya itu tidak memplagiat karya orang lain.

Maka tidak heran, kalau hari ini, seniman juga bisa coding.


2 Responses to “saat seniman juga coding: pendekatan lain dalam penciptaan audiovisual interaktif”


  1. 1 ichsan
    November 24, 2012 at 12:58 am

    bro, boleh tau ga judul buku tentang vj yang dimaksud itu apa ya? kebetulan buat kebutuhan tugas akhir ni. Tolong dibales yaa.. thank you.

  2. May 6, 2014 at 9:25 am

    betul sekali bahwa desainer multimedia mau tidak mau harus mengetahui soal coding. Kemampuan otak kanan mereka yang mumpuni akan lebih bernilai plus saat kemampuan otak kiri dalam berlogika dimaksimalkan. Informasi yang menarik.🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


October 2009
M T W T F S S
« Jun   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 24,615 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan


%d bloggers like this: