Archive for the 'cerita-cerita' Category

30
Oct
10

Indonesia Production Note #1: The Theme

So after I proudly finished my first ever film, I figured that this would be the perfect time to write about the production of this film, as a reflection for me and as a story for you dear readers. I’ll write these production notes in a sequence of articles, so bare with me as I start the first installment: the theme of the film.

One thing that I’ve learned from all the great movies that I’ve watched and all the artwork that I’ve encountered, is how much they are all influenced by social issue. As for me, I consider myself as a nationalist and I’ve always want to create an artwork that is socially conscious on one hand as well as political on the other hand. Well I never had that chance when I was in a band, the only closest thing with that was me writing some absurd lyric back when I was in high school.

With all that in mind, I think this would be the perfect timing to unleash my social-political view. A first time experience is always the purest thing upon creation of things. It’s a time where there’s a unique mix of curiosity, eagerness and fear. This is also a time to practice what I’ve learned from all the movies I’ve seen, and putting everything on the table.

So again, I’ve decided that this movie will be filled with my view of the current social-political condition of Indonesia. Specifically, I will highlight the conflict between people, the power of electronic media to the rise and fall of Indonesia. I have to address these several issue, because I’ve been so much bothered by these. When I formulated this theme, basically the headline of the Indonesia’s news is conflicts between these groups of people with no action whatsoever from the government. I was (and still) do think that the country has been diverted from the truth by the media, and as a citizen, we are forced to follow these view produced by the higher power (which is not God). Media never provided or suggested a solution to these conflicts, they just amplified it for everyday consumption of people. As a result, seeds of conflict inside the society are planted slowly and it’s just a matter of time before a bigger and bigger conflicts are to explode.

This is what bother me and I will not stay still. I will tell this story.

Advertisements
10
Apr
10

gig review: Rolling Stone Release Party, 10 April 2010

Rolling Stone Release Party, sebuah acara rutin yang digelar oleh majalah Rolling Stone Indonesia (RSI). Ini pertama kali saya datang ke acara ini. Komunal dan Seringai, 2 band favorit saya akan tampil malam ini, menjadi magnet yang cukup kuat bagi saya untuk pulang cepat tepat waktu dan bergegas menuju venue di Ampera Raya 16, kantor Rolling Stone Indonesia. Selain mereka berdua, masih ada The Authentics, band ska yang cukup sering manggung belakangan ini (dan saya juga cukup penasaran ingin melihat aksi mereka) serta Project The Fly (saya nggak peduli ini siapa).

Saya tiba pukul 8 lebih sedikit, acara belum dimulai, saya langsung membeli tiket, dan oh, ada bonus rupanya, 50 merchandise Ouval Research bagi 50 pengunjung pertama, yang mana saya rupanya adalah pengungjung ke-50. Jadi, mohon maaf bagi yang mengantri di belakang saya. Sempat melihat Ricky Siahaan, gitaris Seringai yang juga penulis di RSI, agak terbersit di otak saya ingin menyapanya dan berkata “Mas, saya mau dong nulis buat Rolling stone, tapi gimana caranya ya?” dan entah mengapa pertanyaan itu tidak jadi saya lontarkan.

Continue reading ‘gig review: Rolling Stone Release Party, 10 April 2010’

20
Dec
09

These R Fake’s My Boyfriend Doesn’t Love Me is on top of ardan’s indie 7 chart

Good news! Thank you so much for everyone who made this possible. Hope this will further affect the band in a positive way e.g: more gig! hahaha… For those of you who hasn’t get a chance to hear this song, well you can take a listen at These R Fake’s myspace page, which is www.myspace.com/theserfake. And for those of you who want to hear this song played live (believe me it’s one of those mandatory song on our setlist) then please, don’t hesitate to book us for a gig 🙂

19
Dec
09

Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress

Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress

Mari saya mulai review ini dengan membandingkan Tika and The Dissidents dengan Lamb of God. Bulan Maret lalu, Lamb of God, salah satu band metal yang saya sukai datang ke Jakarta dan tentunya mengadakan konser di sini. Hasilnya, saya kecewa karena mereka bermain tanpa perasaan. Beberapa minggu kemudian saya membeli CD album terakhir mereka, Wrath. Hasilnya, saya kecewa dua kali.

Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan menyaksikan Tika and The Dissidents dalam format akustik di sebuah daerah di Senayan. Hasilnya, saya tercengang, bagus banget! Dan akhirnya saya pun membeli album terbaru mereka, The Headless Songstress, dan bisa ditebak saya tercengang kembali.

The Headless Songstress adalah sebuah album yang dibuat dengan hati. Setiap lagunya dikomposisi secara hati-hati, perlahan-lahan, setiap detail diperhatikan betul, setiap sound yang muncul ditempatkan di tempat yang pas. Saya selalu kagum dengan album yang menampilkan instrumentasi yang tidak standar (baca: gitar, bass drum), namun ada kalanya instrumentasi tersebut ditempatkan hanya untuk menambah nilai jual. Berbeda di sini, setiap nada yang muncul entah itu dari harmonika, akordion, horn section atau lainnya memang diberikan peran signifikan masing-masing. Bahkan paduan suara pun dijadikan instrumen tersendiri.

Continue reading ‘Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress’

19
Dec
09

Review Album: Pee Wee Gaskins – The Sophomore

Sebagai bagian dari penutup tahun 2009 yang indah ini. apres! ITB membuat daftar album terbaik indonesia tahun 2009, kebetulan saya mendapat bagian untuk mereview album dari Pee Wee Gaskins dan Tika. So, inilah review untuk album Pee Wee Gaskins. (note: link ke list 10 album terbaiknya akan saya cantumkan setelah artikelnya beres, anggap saja ini pemanasan, hehe…)

==========================================

Review Album:
Pee Wee Gaskins – Sophomore


Pada saat saya menulis review ini, seharusnya komparasi antara Pee Wee Gaskins (PWG) dengan band-band pop-punk seperti The Get Up Kids, New Found Glory, atau bahkan Rocket Rockers seharusnya sudah tidak lagi dikemukakan. Sebagai sebuah band tahun ini mereka sudah mencapai level selanjutnya. Sejujurnya saya agak-agak terlewat mengapa mereka bisa sebesar sekarang. Saya tidak tahu apakah fenomena munculnya sekumpulan anak-anak ABG labil yang berdandan dengan topi merah (tidak dibalik) bertuliskan “Dork”, berkaos cerah, bercelana jins dan bersepatu cerah juga yan menamakan diri mereka (atau dinamakan?) Party Dorks itu murni disebabkan oleh kekuatan musik dari PWG atau apakah ini keberhasilan promosi dari PWG? Belum lagi ketika mengetahui bahwa sudah ada yang namanya Anti Pee Wee Gaskins, aih, itu semua tanda kalau band ini memang sudah besar.

Maka dari itu, meskipun saya amat sangat yakin kalau album ini bukan dibuat untuk pria seumuran saya, saya memaksa diri saya untuk membeli albumnya dan kemudian mereviewnya. Saya akan terjun langsung ke jualan utama mereka: musiknya. Saya tidak akan mempertimbangkan bagaimana perilaku personil band ini di atas dan di luar panggung, saya tidak akan menyinggung performa live mereka, saya hanya akan menilai album Sophomore mereka ini. Anggap saya sedang mengulas nasi goreng buatan Angie, si wanita tuna susila. Saya tahu kelakuan si Angie ini minus, tapi kalau sedang menilai nasi gorengnya, mustinya ya hanya nasi gorengnya yang jadi bahan penilaian saya.

Continue reading ‘Review Album: Pee Wee Gaskins – The Sophomore’

12
Dec
09

Review Film: Zombieland (2009)

Zombie, ya, zombie. Sebuah objek (atau subjek?) yang seringkali diangkat ke layar kaca sebagai inti dari film horor. Belakangan ini, film zombie juga menjadi trend tersendiri, silakan ingat kembali, berapa banyak film zombie yang masuk bioskop (atau nggak masuk sehingga ujug-ujug sudah ada aja dvd-nya di ITC Kuningan) dalam 5 tahun terakhir ini. Beberapa film mengangkat zombie sebagai sebuah topik inti dari dari film horor, bagaimana seorang jagoan bertahan di tengah-tengah serangan ribuan makhluk mengerikan. Beberapa justru mengangkat tema bertahan hidup tadi dengan caranya sendiri, dari yang satir seperti Dance of The Dead (2009), Shaun of the Dead (2004) hingga yang super nyeleneh: menjadikan zombie hewan peliharaan di film Fido (2006).

Jadi, tidak heran kalau di tahun ini, muncullah film seperti Zombieland. Film yang sebelum dirilis juga cukup menghasilkan hype yang sangat besar, hingga ketika dirilis film ini pun bisa menduduki peringkat box office tertinggi untuk film zombie, mengalahkan remake Dawn of the Dead (2005). Kalau begitu, sebagai seorang pecinta film zombie, wajar dong kalau film ini menjadi film yang sangat saya tunggu. Maka, hari ini, di tengah hari istirahat saya pun menyempatkan diri menonton film ini di sebuah bioskop di kawasan Sudirman.

Continue reading ‘Review Film: Zombieland (2009)’

30
Nov
09

Weekend yang sangat langka

Weekend yang sangat langka. Karena untuk pertama kalinya musim ini, ketiga klub yang saya dukung menang semua! West Ham United pesta gol ketika mengalahkan Burnley 5-3 hari Sabtu (28 November 2009). Carlton Cole, Guillermo Franco, Luis Jimenez, Junior Stanislas dan Robert Kovac semua mencetak gol. Di Minggu malamnya, FC Barcelona menghantam rival abadinya Real Madrid 1-0 dalam pertandingan yang berjuluk El Clasico, berkat gol dari Zlatan Ibrahimovic. Terakhir, AC Milan mengandaskan Catania 2-0 lewat gol cepat di injury time yang dihasilkan Klaas Jan Huntelaar. 2 gol ini juga menjadi pemecah telur bagi Huntelaar yang belum pernah mencetak gol bagi AC Milan di musim kompetisi ini.

That’s it. Cara yang tepat mengakhiri long weekend yang menyenangkan.




October 2017
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 24,995 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan