Archive for the 'IT' Category

04
Oct
09

Review Nokia E75

Wah sudah genap seminggu nih Nokia E75 saya kantongi. Handphone yang saya dapatkan setelah uang bonus turun usai lebaran kemarin, hihi… Kesan saya selama ini, handphone ini benar-benar powerful. Mulai dari fisik (ukuran moderat, dan beratnya yang mantap) hingga ke stabilitas handphone ini (sejauh ini handphone belum ngehang, dan kondisi batere juga awet hingga 2 hari lebih).

Handphone yang masuk ke kategori smartphone untuk bisnis ini cukup unik. Bentuk awalnya seperti handphone biasa dengan tombol seperti biasa pula. Namun bodynya bisa digeser, untuk mengeluarkan keyboard QWERTY dan seketika berkat sensor accelerometer di dalamnya, layar pun ikut berubah ke tampilan horizontal. Tampilannya pun jadi mengingatkan ke era communicator. Konon, handphone ini adalah pelanjut keberhasilan communicator tersebut.

E75 dengan keyboard QWERTY-nya

E75 dengan keyboard QWERTY-nya

Tapi fungsi sebenarnya yang diutamakan dari handpone ini adalah email. Kalau menurut iklan, handphone ini bisa PUSH dan PULL email dari berbagai account dan settingnya pun sangat mudah. Kenyataannya memang demikian. Begitu saya mendapat handphone ini, hal pertama yang saya lakukan adalah menambahkan account Yahoo! Mail dan Gmail saya. Keduanya berhasil, tanpa kesuliatn. Cukup dengan memasukkan username dan password, kedua account ini berhasil ditambahkan. Dan ini saya lakukan dalam perjalanan dari toko handphone ke foodcourt. Hingga hari ini pun, fungsi ini berjalan dengan baik. Semua email yang masuk ke kedua account saya ini terus dikirimkan ke handphone. Impresif!

E75 dalam mode telepon biasa

E75 dalam mode telepon biasa

PUSH dan PULL email ini menggunakan layanan Nokia khusus, dan biayanya ditagihkan ke penggunaan pulsa GPRS, seperti ketika kita berinternet biasa. Oleh karena itu, dalam rangka penghematan, saya melakukan kustomisasi, seperti hanya mendownload email header, isinya baru ditampilkan kalau saya merasa itu perlu. Selain itu, saya juga mendaftarkan diri saya di paket promosi internet provider saya. Kebetulan saya menggunakan XL. Ada harga promosi yang cukup menggiurkan. Sehingga saya tidak perlu merogoh kocek dalam untuk menikmati layanan email handphone ini.

Fungsi lainnya yang berhubungan dengan internet seperti web browsing dan mendownload juga dapat berjalan dengan baik. Ada web browser bawaan, namun saya kurang suka dengan cara kerjanya, hingga akhirnya saya pun mendownload Opera Mini 4.2. Software ini bisa berjalan baik.

Namun masalah saya temui untuk software messaging. Di handphone saya yang lama, eBuddy dan Nimbuzz bisa berjalan lancar tanpa masalah. Namun di sini keduanya tidak berfungsi. Nimbuzz tidak bisa masuk ke layar login. eBuddy bisa login namun hanya menampilkan 8 teman. Solusi lain yang saya coba adalah dengan menggunakan Nokia Messaging yang bisa didapatkan di website Nokia Lab. Dengan software ini ternyata semua teman saya bisa ditampilkan. Namun ternyata pesan yang saya kirimkan tidak sampai. Sementara untuk masalah ini saya belum punya solusi, ada yang bisa memberikan solusi?

Untuk komunikasi lain, seperti SMS dan menelpon juga tidak ada masalah. Untuk SMS, keyboard QWERTY yang ada di handphone ini juga sangat membantu. Cukup mudah digunakan, meskipun jarak antar tombol cukup kecil dan batas antar tombol cukup sulit dirasakan. Tapi dengan sedikit adaptasi, ternyata bisa juga. Justru SMS dengan tombol biasa, yang agak sulit. Karena perbedaan antar tombol lebih sulit lagi dirasakan. Jadi sebisa mungkin saya menggunaka QWERTY atas nama kemudahan, kecuali ketika saya berdiri di busway, hehe…

Fungsi hiburan saya belum banyak menggunakan. Tapi yang jelas, handphone ini bisa untuk memotret dengan kualitas gambar yang cukup baik. Saya tidak terlalu banyak memotret, jadi saya tidak akan komplain untuk urusan ini. Begitu juga dengan urusan memainkan file audio yang bahkan hingga saat ini saya belum mencoba, haha… Yang cukup unik adalah urusan bermain game. Karena secara built ini, handphone ini tidak menyediakan game. Yang tersedia adalah akses ke jaringan Nokia n-gage, di mana pengguna bisa mendownload game yang dikehendaki. Dari sini bisa dilihat bahwa Nokia memang serius membungkus handphone ini sebagai perangkat komunikasi bisnis.

Keseluruhan saya cukup terkesan dengan hanpdhone ini. Fungsi utamanya yang berjalan dengan baik membuat saya selalu terhubung dengan dunia maya. Komunikasi via email baik yang urusannya pribadi maupun kantor pun tidak terlewat meskipun saya sedang di busway atau sedang pacaran :). Bentuknya yang elegan dan canggih pun menjadi nilai tambah yang lain. Ditambah dengan stabilitas yang baik, handphone ini menjadi sebuah handphone serius bagi pebisnis mobile.

02
Oct
09

saat seniman juga coding: pendekatan lain dalam penciptaan audiovisual interaktif

Media digital belakangan ini menjadi salah satu media yang banyak digunakan seniman untuk berekspresi. Media ini menawarkan berbagai kemudahan bagi penggunanya. Selain lebih awet, format digital juga mudah untuk direkayasa dan digabungkan dengan bentuk digital lainnya. Contohnya, video klip yang menggabungkan video dengan audio, atau game yang menggabungkan animasi, audio, algoritma, dan interaktivitas. Interaktivitas ini juga dikembangkan lebih lanjut dengan menggabungkan komputer dengan sensor-sensor tertentu untuk menghasilkan sebuah bentuk baru komunikasi antara manusia dengan komputer. Maka tak heran bila media digital menjadi media baru yang banyak digunakan untuk membuat karya audiovisual interaktif.

Namun, untuk membuat sebuah karya yang sah nilai komersilnya, perlu diperhatikan aspek legalitas dari proses pembuatan karya tersebut, seperti legalitas tool yang digunakan, baik itu hardware maupun software, dan juga ada tidaknya unsur dari karya orang lain. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memberikan contoh pendekatan lain dalam membuat sebuah karya kreatif di bidang audiovisual interaktif.

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membaca buku yang membahas secara mendalam tentang VJ (Visual Jockey) sebagai sebuah kultur audiovisual. Buku ini berisi wawancara dengan beberapa VJ terkemuka di seluruh dunia dan juga tinjauan historis dan teknikal mengenai profesi VJ itu sendiri. VJ di sini bukanlah VJ yang menjadi pembawa acara musik di TV, melainkan seorang yang menampilkan visualisasi sebagai pengiring musik, baik yang diputar di klub maupun yang dimainkan langsung dalam format band.

Dalam bagian wawancara, ada sebuah pertanyaan yang selalu ditanyakan berulang kali kepada hampir semua VJ, yakni bagaimana mereka berurusan dengan copyright, atau hak cipta dalam setiap visualisasi yang mereka tampilkan, baik itu gambar maupun potongan film. Jawaban mereka berbeda-beda, namun beberapa memberikan jawaban yang cukup unik: mereka tidak peduli karena mereka justru yakin bahwa yang mereka tampilkan adalah murni karya mereka sendiri, murni sesuatu yang mereka program sendiri.

Para VJ yang melakukan programming sendiri ini, bahkan lebih lanjut menunjukkan bahwa dengan metode ini, mereka bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka, yakni sebuah karya yang menunujukkan interaktivitas antara audio dan visual. Membuat visual yang berinteraksi dengan frekuensi-frekuensi tertentu dari musik yang dimainkan DJ, atau bahkan sesuatu yang bisa bereaksi terhadap perilaku penonton dan membuat pertunjukan musik semakin semarak. Dari sini nampak bahwa dengan melakukan programming, para VJ ini bisa mewujudkan khayalan mereka tentang bentuk interaksi manusia dengan media komputer.

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

Saat menghubungkan antara penciptaan dengan software melalui media komputer, aspek legalitas software yang digunakan, akan menjadi sesuatu yang vital. Tentunya akan nampak konyol saat menciptakan sesuatu yang murni buatan diri sendiri namun pembuatannya menggunakan software bajakan. Ada pelanggaran hak cipta juga di situ. Dengan melakukan programming sendiri, baik dengan menggunakan bahasa high level seperti C++, Java, atau Visual Basic, ataupun dengan programming environment open source yang sengaja dibuat untuk karya seni semacam Processing, Pure Data, Design By Numbers, dan Gridflow, tentu saja aspek penggunaan software bajakan sebagai tool kreatif juga bisa dihindari.

Secara filosofis anggaplah bahasa pemrograman ini sebagai kuas dan cat, dan kanvasnya adalah komputer. Komputer ini akan diberikan kode-kode untuk membuatnya bekerja menuruti imajinasi si seniman. Hasilnya sebuah karya seni di ranah digital yang bebas untuk diaplikasikan, mulai dari untuk media iklan, website, game, dan sebagainya. Dengan metode ini, hak cipta juga dapat dihargai dan orisinalitas karya juga menjadi sesuatu yang bisa dijamin, tentu saja selama ide karya itu tidak memplagiat karya orang lain.

Maka tidak heran, kalau hari ini, seniman juga bisa coding.

01
Oct
09

Akhirnya CCNA Juga

Well, 2 hari yang lalu saya akhirnya bisa juga lulus ujian jadi CCNA, alias Cisco Certified Network Associate. Cukup bikin lega, karena at least saya bisa mendapatkan bukti pengakuan kemampuan di bidang network, dan jadinya nggak malu lagi kalo ditanya customer “Udah CCNA Mas?”, hehe…

CCNA sendiri adalah tingkatan terendah dari sertifikasi profesional yang diberikan oleh Cisco, sebuah vendor network device pemimpin pasar. Meski demikian, CCNA ini bisa dianggap sebagai dasar kualifikasi kemampuan dasar-dasar teori jaringan seseorang. Biarpun di depannya ada embel-embel “Cisco” bukan berarti murni untuk kualifikasi ini seseorang harus jago Cisco saja. Malahan justru yang paling banyak diujikan dalam ujian ini adalah dasar jaringan itu sendiri, seperti OSI 7 layer, IP addressing, dasar-dasar routing dan switching, roting protocol, dan beberapa topik terkini seperti wireless dan security. Topik-topik dasar seperti ini sangatlah vital bagi seseorang yang berkecimpung di dunia jaringan seperti saya atau bagi yang ingin mengambil sertifikasi lanjutan seperti CCNP, CCDA, CCDP, bahkan CCIE. Ibarat seorang anak, CCNA ini adalah Sekolah Dasar, jadi bayangkan, bagaimana mungkin orang bisa memecahkan persamaan kuadrat kalo dasar matematika seperti kali bagi tambah kurang tidak dikuasai.

Jadi, bagi yang mau mengambil CCNA juga, maka saya sarankan untuk mempelajari dasar-dasar jaringan, terutama bagaimana aliran data di OSI 7 layer, karena ini terbukti menjadi dasar yang amat vital dalam mempelajari kerja jaringan. Percayalah, sertifikasi seperti ini akan menjadi modal yang baik untuk memulai karir di bidang networking. Kalau bisa diambil ketika masih kuliah bagus, kalau diambil abis lulus juga tidak apa, tapi lebih cepat lebih baik 🙂 Mudah? Sangat! Bayangkan, teman saya yang sarjana hukum, bisa punya sertifikasi CCNA ini. Tunggu apa lagi? 🙂

01
Oct
09

Musisi dan Engineer Seharusnya Bisa Menjadi 2 Profesi yang Saling Melengkapi

Beberapa waktu yang lalu saya menonton video wawancara dengan deadmau5, seorang DJ nyentrik dari Kanada yang prestasinya cukup gemilang. Dalam wawancara itu dia sempat berkata bagaimana dia bekerja sama dengan pembuat monome, sebuah kontroler yang menggunakan protokol OSC, untuk membuat monome mengendalikan Ableton Live. Pada proses itu dia berkata kalau dia juga melakukan programming dengan Python untuk mencapai tujuannya. Wow. Saya tidak menyangka kalau ternyata menjadi DJ jaman sekarang pun, musti punya pengetahuan soal progaramming seperti ini.

Kasus lain ialah Trent Reznor, si mastermind Nine Inch Nails. Saya membaca di salah satu tweet-nya, kalau dia sedang membuat aplikasi NIN untuk iPhone. Wow. Apapula ini? Meskipun saya sering mendengar dia memang hobi mengutak-atik hardware dan software, saya tidak menyangka kalau dia sampai benar-benar membuat aplikasi.

Dari dua kejadian itu saya pun mengambil kesimpulan, kalau di era di mana teknologi alat musik sudah maju sedemikian pesat, nampaknya pengetahuan sebagai engineer khususnya di bidang elektro atau komputer nampaknya memang cukup vital. Terlebih ketika banyak software maupun hardware musik yang mendorong eksplorasitidak hanya dari segi teknis pemakaian tapi juga teknis pembuatan untuk mendorong adanya bentuk interaksi baru dalam menghasilkan musik.

Contoh nyata dari itu semua adalah banyaknya software dan hardware musik yang bersifat open source. Perkembangannya pun begitu pesat. Monome, x0b0x, MIDIBox, adalah sebagian dari open source hardware yang bisa digunakan untuk bermusik. Pengembangan dari masing-masing ini pun begitu banyak hingga menghasilkan berbagai macam alat dengan berbagai fungsi. Di software juga demikian. Pure Data dan Processing adalah 2 contoh kecil software open source yang begitu hebat ketika digunakan untuk bermusik. Penggunaan alat-alat ini memang tidak murni mengharuskan orang untuk bisa programming, tapi ketika kita akan membuat semua perangkat bekerja menurut keinginan kita, maka keterampilan dalam memaksa komputer, atau hardware pada umumnya, untuk bekerja sesuai desain dan keinginan kita, menjadi sesuatu yang cukup esensial.

Mungkin pembicaraan ini lebih banyak ke arah konsep teknikal. Karena betapapun hebatnya sebuah alat, pada akhirnya ia akan nampak berbeda jika dipakai oleh orang yang tepat. Alat musik akan lebih terasa hebatnya kalau berada di tangan seorang yang kreatif dan berjiwa seni tinggi. Nah, ini juga yang menurut saya musisi dan engineer mustinya saling melengkapi. Jiwa kreatif akan membuat seorang engineer lebih bisa memecahkan masalah sementara dengan skill seorang engineer, seorang musisi bisa merealisasikan khayalan seninya. Menarik.

Kalau sudah begini, ingin rasanya mengambil waktu luang untuk mengutak-atik komputer, melakukan sedikit coding sana-sini untuk membuat musik 🙂

30
Nov
08

Pentingnya Memperjelas Kebutuhan

Kalau ada satu hal yang saya pelajari dari mengerjakan Tugas Akhir saya, maka tak lain hal itu adalah pentingnya memperjelas apa yang dibutuhkan dari suatu sistem pada saat perancangan sistem tersebut. Dan percaya atau tidak, ternyata hal itu sangat membantu dalam kehidupan berkomputer saya sehari-hari.

Saya ambil contoh ketika saat ini space hardisk di PC dan Macbook saya mulai terasa sempit. Di PC, setiap saya ingin menginstalasi game baru, selalu saja ada yang harus saya hapus. Sementara Macbook saya terasa mulai sedikit melambat (tapi ini belum saya buktikan melalui pengukuran yang presisi, hanya perasaan saja). Kalau begitu berarti tidak ada jalan lain, operasi pembersihan hardisk harus segera dimulai. Namun pertanyaannya, apa yang harus dibersihkan?

Untuk itu saya membuat daftar, kegiatan apa saja yang biasa saya lakukan baik di PC maupun Macbook. Sehingga segala sesuatu yang berada di luar daftar itu bisa dihapus dengan aman. Dan inilah daftar itu:

– Ber-Internet (browsing, chatting, download melalui torrent)
– Memainkan file multimedia
– Programming (Java, C, C++)
– Membuat musik
– Game (Spore, FM 2009, PES 2009)
– Office
– Mengolah gambar

Dari situ kemudian saya memilah, mana saja yang bisa dilakukan di PC, mana yang bisa di Macbook, mana yang bisa di keduanya. Hei, kalau ada 2 tempat untuk bekerja, berarti mustinya tool yang dibutuhkan bisa disebar di 2 tempat dan tidak dibiarkan menumpuk di 1 tempat. Hasilnya, mengolah gambar, office dan game akan saya tetap fokuskan di PC, sementara untuk membuat musik saya fokuskan di Macbook saja. Ini karena selama pengalaman saya, membuat musik di Mac jauh lebih nyaman dibandingkan di PC Windows saya, dan memainkan game jauh lebih menyenangkan di PC. Office 2008 di Mac nampaknya bisa saya hilangkan untuk lebih menghemat ruang hardisk dan sebagai gantinya saya bisa menggunakan Neo Office yang lebih hemat ruang, mengingat pada akhirnya mungkin Macbook tidak akan digunakan untuk melakukan pembuatan dokumen yang rumit.

Beres semua, sekarang tinggal eksekusi. 🙂

Oh ya, ada 1 hal lagi yang bisa didapatkan dari memiliki list kebutuhan seperti ini. Ketika kita ingin menginstalasi OS baru, kita cukup melihat apakah OS yang diinginkan bisa memenuhi kebutuhan kita. Sebagai contoh, saya melihat kegiatan membuat dokumen, berinternet, programming serta membuat dan mendengarkan musik sebagai sebuah hal yang wajib bisa saya lakukan di sebuah OS. Maka dari itu ketika saya memutuskan untuk mencoba hidup dengan Ubuntu, saya tidak merasa kehilangan sesuatu, karena semua kebutuhan saya sudah ada di situ. Pun demikian ketika saya tiba-tiba penasaran ingin mencoba FreeBSD (yang hingga detik ini pun belum saya lakukan, baru sebatas ingin tahu) saya bisa menilai apakah sistem ini layak untuk dicoba atau tidak.

Akhir kata tentu saja, pemilihan sistem juga bergantung pada hardware apa yang akan digunakan. Namun, dengan memiliki spesifikasi kebutuhan yang jelas, kita akan lebih mudah memilih dan merancang sebuah sistem.

06
May
08

Software Musik Gratis

Di postingan sebelumnya, saya sudah membahas tentang beberapa tips untuk membuat musik di komputer. Nah, kali ini kita akan memfokuskan perhatian pada software musik gratis. Mengapa harus gratis? Apa iya freeware-freeware cukup kuat dan berkualitas sebagai tool membuat musik? Dengan senang hati, saya akan menjawab pertanyaan kedua dengan “iya”. Sementara pertanyaan pertama akan kita bahas di paragraf berikut.

Sebagai seseorang yang sudah cukup lama dan antusias memanfaatkan komputer sebagai sarana membuat musik, saya sudah merasakan berbagai macam software musik, mulai dari yang bajakan hingga yang gratis. Mengenai software bajakan, memang itu solusi termudah yang ada di sekitar kita. Anda yang tinggal di Bandung mungkin sudah pernah mengunjungi lapak-lapak di depan Mesjid Salman atau di BEC yang menjual berbagai software bajakan, termasuk software musik. Dengan harga yang cukup murah, kita sudah bisa mencoba software seperti Reason atau Ableton Live (my fav!), yang harga aslinya ketika dikurskan ke rupiah bisa mencapai jutaan rupiah. Faktanya, memang mudah mendapatkan software-software ini. Belum lagi melihat fakta bahwa inilah software-software yang dipakai para musisi dunia. Tapi, software ini bukan tanpa masalah, terutama masalah stabilitas. Seringkali ketika saya sedang mengulik software ini, tiba-tiba software crash, ataupun mendadak latency meningkat yang berakibat soundnya jadi jelek banget. Belum lagi masalah cacat GUI, wah…cukup menyiksa.

ArdourAudacity

Setelah saya membaca wawancara dengan ebberapa musisi luar, ada suatu hal yang saya tangkap di sana. Seringkali mereka menekankan pentingnya memakai software asli dan bukan cracked software. Alasannya mirip dengan masalah yang saya temui ketika memakai software bajakan, yakni stabilitas. Reason yang diakui stabil saja di komputer saya bermasalah.

Nah berkaca dari masalah di atas, saya pun mulai berpikir untuk memakai software asli. Tapi duit dari mana? Nah, untuk itulah, ada ribuan freeware yang siap dipakai, dengan kualitas asik. Untuk DAW (Digital Audio Workstation) ada Ardour atau Reaper yang kualitasnya bagus. Synthesizer? Ada synth1 atau Crystal. Audio editor? Ada Audacity. Wah, pokoknya akan butuh banyak postingan untuk memabahas yang terbaik di setiap kategori software. Saya sendiri sedang berusaha memilih mana yang terbaik di antara freeware-freeware ini. Sejauh ini, yang bisa saya sampaikan adalah mereka semua bagus! Yang jelas, software-software gratis ini sudah banyak tersedia dan tinggal kapan diunduh dan dimanfaatkan. Batasannya, hanya kreativitas Anda.

Freeware-freeware ini dapat didownload dari:

1. http://www.dontcrack.com
2. http://www.kvraudio.com

synth1 hydrogen

Sebagai penutup, mungkin perlu digarisbawahi kenapa saya memilih software-software gratis. Mungkin ada yang akan berargumen demi ke-halal-an musik karya kita, atau demi solidaritas sesama programmer. Tapi yang jelas saya memilih software-software ini demi stabilitas dan kenyamanan dalam membuat musik. Sebuah hal yang sangat vital bagi musisi dan pengguna komputer seperti saya. Selamat berkarya!

05
May
08

15 Tips for Computer Music Beginners

Wah, ada 15 tips menarik nih yang layak dipraktekkan buat kalian yang ingin memulai membuat musik dengan komputer. Tips ini saya ambil dari situs http://www.musicradar.com, sebuah situs baru yang berisi banyak sumber daya bagi kalian musisi-musisi di luar sana. So, make sure you visit them okay… Silakan dinikmati.

1. It should be a given, but we’ve got to remind you to read the manuals, particularly for your sequencer. They really are your passport to knowledge and experience. Try leaving them in the bathroom or taking them on the bus to work/school/college with you every day.

2. Don’t be tempted to buy everything now. If you get too much software in at once, you simply won’t have time to master it all and will end up missing things.

3. Keep your system as simple as possible. Even experienced producers like to reinstall everything from time to time, as there’s nothing more productive than a blank canvas, so don’t rush to acquire every free plug-in you come across. Check with forums and friends and stick to the really good ones.

4. Try your hand at a few different styles when you’re starting out, as this is the time when habits become cemented. Experimenting with non-conventional techniques for your main genre will stand you in good stead and help your productions to stand out.

5. Try to pick a good spot for your setup. You want somewhere comfortable but without too many distractions, and ideally as far away as possible from anybody who’ll complain about the noise.

6. Pick the right platform for you, not just the most familiar option (you’ll learn fast). These days PCs and Macs of equivalent spec are roughly the same price, so it might just come down to your choice of software (Sonar means PC, Logic means Mac). But remember, Macs can now run Windows natively too.

7. Learn a little about acoustic treatment before you finalise your space. Speakers in corners muddy the bass; speakers halfway between floor and ceiling set up standing waves; hard walls create nasty brightness; straight lines and square rooms are your enemies.

8. Get hold of some acoustic tiles. The best place to look is on eBay, as there are some fantastic bargains to be had. You don’t actually need to cover every surface, but if a hard wall is within sight of the front of your speakers it’s probably worth putting up something to minimise the reflections.

9. The most vital tool when mixing is a decent set of monitor speakers. You simply cannot expect to create a quality mix that’s free of surprises on other systems unless you have a high quality and accurate reference point to begin with. So don’t skimp. Save, save and save some more until you can get some proper monitors.

10. Ignore forums! No, seriously: for more general questions and debates, they’re a hive of ill-informed and subjective speculation masquerading as knowledge! For example, never rely solely on buying advice from a forum – you’ll get 30 answers, even if there are only ten products to choose from. But also…

11. Use forums! They’re great for helping you with your problems, because somebody somewhere will almost certainly have had the same issue you’re having. Got latency troubles with your soundcard? A plug-in won’t open any more? Google it and you’ll almost certainly find a helpful forum post somewhere.

12. Don’t blow all your money on gear until you know you have at least a passion for music production and, ideally, some aptitude. Not every great musician is a great producer and vice versa – they’re different skill sets. Begin with some free software – it’ll certainly be good enough to get you started.

13. If you’re a DJ or aspiring producer, consider going into a pro studio to finish your first couple of tracks. It’s best to wait until you’ve started a few on your own and know the basics, then go in with your idea to watch a pro at work and ask them questions.

14. If you want to make music your life, don’t waste time on intense recording courses. These are designed to teach production and engineering, while you should be concentrating on writing and playing. If you love the technical side, though, they can be a great way in.

15. Don’t try to run before you can walk. It’s easy to have grand ideas, but if you set your sights too high you’ll almost certainly fall short, and there’s nothing more demoralising than that. Begin with an open mind and no expectations – let things happen naturally.




April 2017
M T W T F S S
« Oct    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

ketinggalan sesuatu?

Blog Stats

  • 24,804 mari berhitung!

twitter.com/kotakmakan